Beberapa Hal Yang Patut Dipertanyakan

Aya Harukawa
Sou
Slice Of Life
4
428 kali
2 kali

not admin's choice

Orang Tuaku atau kalian bisa membacanya My Parents Ada yang bilang kalau buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Ada juga yang bilang kalau gigi atas patah harus dIbuang ke bawah. Ada juga yang bilang kalau mau pandai harus belajar. Gak ada hubungannya sih. Cuma ngingatin aja. Haha. Jika kalian datang ke rumahku. Kujamin, kalian pasti akan terheran-heran. Apalagi kalau melihat cowok cakep yang sedang masak di dapurku. Dan pertanyaan pertama yang akan kalian tanyakan adalah seperti ini: “Kakak kamu cakep, ya!” Lalu akan kujawab: “Itu ayahku,” Yang pasti akan membuat kalian kaget setengah mati. Lalu pertanyaan kedua yang pasti kalian tanyakan adalah: “Ibumu mana?” Lalu kujawab: “Sedang main komputer,” Jangan bertanya mengapa ayahku memasak sedangkan ibuku bermain komputer. Jangan tanyakan itu. Sebab aku pun tidak mengerti mengapa ibuku tidak mau belajar memasak. Ayahku juga bukan koki, ia hanya seorang dokter. Dan ibuku seorang ibu rumah tangga. Aku juga tidak mengerti mengapa mereka bisa menikah sebab mereka terlalu aneh. Bukan seperti air dan api, itu berlawanan. Tetapi aneh, mereka seperti daun dan tanah. Aneh bukan? Persamaaan yang dimiliki kedua orang tuaku adalah wajah mereka yang sama-sama baby face. Sudah berumur 40-an tapi orang sering mengira kalau mereka masih berumur 25 ke atas. Tentu saja terkadang aku risih jika di kira sebagai adik mereka. Ibuku itu kalau di depan ayahku selalu saja terlihat sembrono. Tidak mau berdandan atau sisiran. Hal itu aku juga tidak mengerti mengapa. Walaupun terlihat malas dan faktanya tidak bisa memasak, Ibu tetap mengerjakan pekerjaannya sebagai istri dan ibu rumah tangga. Seperti mencuci atau menyetrika pakaian. Kalian mengerti kan? Orang tuaku terkadang bertengkar karena alasan sepele. Misalnya ayah mengatakan kalau ibu bermental pembantu, lalu dibalas ibu dengan mengatakan kalau ayah kemayu. Padahal ayah sudah sabuk hitam dalam karate. Setelah itu mereka akan bertengkar dan dilanjutkan dengan teriakan kesakitan ayah yang sedang dicubit ibu. “Sou, hari ini kita makan di luar,” kata ibu. “Ayah kemana?” “Di rumah sakit. Masih sibuk. Kata ayah, mungkin pulangnya larut. Jadi kita makan di luar saja,” sahut ibu. “Ya,” jawabku, lalu bergegas mengganti baju. Sebenarnya ada satu pertanyaan yang menyangkut di kepalaku. Mengapa ibu tidak mau belajar memasak? Aku pernah bertanya suatu hari dan diakhiri dengan tatapan ganas ibu. Makanya sampai detik ini aku tidak tahu mengapa ibu tidak mau belajar memasak. Aku berjalan berdampingan dengan ibu. Menuju restoran. Ibu tidak lagi menggandeng tanganku seperti yang ibu lakukan ketika aku berumur 10 tahun. Kini aku sudah berumur 16 tahun. Walau terkadang ibu masih menganggapku anak berumur 10 tahun, misalnya ibu melarangku pergi sendiri jika berbelanja. Harus ada yang menemani, entah itu temanku atau jika tidak ibu sendiri yang menemaniku. Wajar sih, aku anak tunggal soalnya. Dan keahlianku di dapur tidak jauh dari ibu. Aku hanya bisa memasak nasi dan menggoreng telur. Ibu tidak berkomentar banyak tentang itu. Aku kan anak laki-laki. Aku bersyukur untuk bagian itu. “Mau makan apa?” tanya ibu ketika kami sampai di sebuah rumah makan kecil. Sebenarnya ingin pergi ke rumah makan Padang. Tapi malah tutup. “Ayam goreng saja,” jawabku. Ibuku segera mengatakan pesanan kami. “Habiskan makananmu, Sou.” Aku melihat piringku. Beginilah selalu yang terjadi. Apapun yang kami makan, tidak boleh ada yang tersisa. Harus habis dan licin. Dulu aku pasti akan bertanya, mengapa aku harus menghabiskan semuanya sampai licin? Aku sih lebih suka menghabiskan indomie daripada makanan lain. “Aku bau ayah,” kataku tanpa sadar ketika mencium kaus yang kupakai. “Salahmu sendiri. Kau asal ambil sih,” jawab ibu. Bukan maksudku ayahku itu bau. Masa ganteng-ganteng bau? Ibuku terkadang bau kalau tidak mandi seharian, semua orang juga begitu. Selera ayah terhadap wanita mungkin agak aneh. Menurutku, ibuku orang yang awut-awutan, mandi hanya sekali sehari, jarang sisir rambut, tak pintar memasak, pemarah, dan tidak mau memberikan adik untukku. Aku agak sedikit jengkel karena ibu menolak tegas memberiku adik. Dan akhir-akhir ini kejengkelanku semakin bertambah karena ibu terlihat semakin sembrono. “Ini kan karena ibu salah meletakkan baju ayah di lemariku!” protesku. “Manusia kan bisa salah juga. Apalagi kalian memiliki selea kaus yang hampir sama,” jawab ibu enteng. Mengerti kan? Mengapa aku agak sebal pada ibu? Ibu orang lain suka marah pada anaknya jika anaknya berantakan dan mengotori rumah. Ibuku marah padaku jika aku mematikan komputer secara mendadak karena tidak tahan dengan rumah yang terkadang lupa ibu bersihkan karena asyik bermain. “Untung ibu tidak salah meletakkan baju seragamku dengan jas putih ayah,” sungutku. “Kalau kau mau letaknya tepat semua. Kenapa bukan kau saja yang melakukannya?” tantang ibu. Aku mendelik pada sendok. Kalau aku mendelik pada ibu aku bisa dilempar garpu dan mungkin pulang dengan keadaan kepala luka parah. “Tidak. Terima kasih, bu,” kataku menolak tantangan ibu. Ibu mendesah kecewa. Aku lebih kecewa lagi. Memikirkan mengapa ibuku seaneh ini. Kalau nanti aku menikah aku ingin menikah dengan wanita yang lebih rapi dariku dan lebih kalem. Tidak berisik seperti ibu walau hanya kadang-kadang. Aku mendengus lagi. “Aku benar-benar bau ayah!” “Ayahmu tidak bau. Dia itu wangi. Dan baju itu ibu setrika dengan pengharum.” “Bukan bau seperti itu, bu! Ini bau khas ayah! Bukan bau milikku!” Ibu menatapku aneh. Lalu berdiri dan membayar makan malam kami. Pengharum baju ayah dan bajuku berbeda. Itu keanehan yang kami miliki. Aku akui. Jadi, jika ibu menyetrika baju harus menyiapkan 2 macam pengharum baju. Satu milikku dan yang satunya milik ayah. Jika menyetrika bajunya sendiri, ibu tak pernah ambil pusing. Ibu memakai pengharum manapun yang bisa ia temukan. Bahkan jika tidak ada ibu tidak memakainya. Bahkan terkadang ibu tidak menyetrika bajunya. “Sou, kau mau pulang atau duduk terus disitu sambil menggerutu kalau kau bau ayah?” tanya ibu tak sabar. Aku bangkit dan segera berlari ke arah ibu. Namun sial, aku malah terjatuh dan ibu membantuku berdiri sambil tertawa. Jika aku melihat ibu sekarang, rasanya aku sedikit mengerti mengapa ayahku menikah dengan ibuku. Ibuku terlihat sangat manis. Tapi, aku tak mau menikahi wanita hanya karena dia manis. Tidak. Terima kasih. “Ibu bawa pulang makanan lagi?” tanyaku saat melihat sebuah bungkusan. “Untuk ayahmu.” “Bukannya ayah sudah makan disana?” Ibu mengangkat bahu,”Entahlah. Hanya jaga-jaga kalau ayahmu merasa lapar. Ibu kan tidak bisa memasak. Lagipula ayahmu itu suka lupa makan kalau sudah bekerja.” “Ibu tahu darimana?” tanyaku penasaran. Ibu tertawa sambil menatapku, “Percayalah, Sou. Ibu tak perlu bertanya untuk mengerti ayahmu itu. Ibu sudah mengenalnya selama kau hidup.” Ketika kami menapakkan kaki di halaman, aku melihat ayah. Ibu segera mendatangi ayah dengn raut wajah sedikit khawatir. “Kenapa pulang cepat?” tanya ibu. “Tadi cuma bercanda waktu bilang pulangnya lama,” kata ayah yang dihadiahi wajah bengong ibu. “Ayah udah makan?” tanyaku. Ayah mengangguk. “Tadi diajak teman-teman makan duku. Kenapa?” Aku menyenggol ibuku. Sekedar mengingatkan perkataan ibu yang sangat mengerti ayah. Niatku sih hanya menggoda sedikit saja. Namun ibu malah tampak sedikit ingin menangis. Aku mengerutkan wajahku. Sedikit bingung dengan kelakuan ibu. “Bilang dong kalau cuma bercanda! Uang belanja malah dipakai tadi buat hal yang sia-sia!” Aku semakin mengerutkan wajah. Sejak kapan ibu jadi pengirit begitu? Ayah juga ikut-ikutan bingung. Ibu masuk ke rumah dengan sedikit kasar. Lalu menutup pintu dengan keras. Aku dan ayah sedikit kaget. “Mungkin ayah harus meminta ibumu berhenti dari pekerjaannya membuat game itu,” kata ayah dengan nada pelan. “Kenapa tidak dari dulu ayah? Ayah membuatku menderita dengan mengijinkan ibu bekerja terus.” “Dulu ibumu tidak seaneh ini. Mungkin proyek yang sedang dikerjakannya sedang banyak. Jadi ibumu sedikit stress belakangan ini.” “Bukan itu yang kumaksud ayah. Ayah tidak mengerti sih,” kataku sebal. Ayah menatapku. “Sou, ayah mengerti. Bahkan ayah merasakan hal yang lebih parah darimu.” “Karena ibu tidak bisa masak maksud ayah?” “Bukan. Karena sejak kau lahir, yang selalu ibumu bicarakan hanya kau dan program yang sedang digarapnya. Benar-benar tidak mempedulikan ayah.” Aku menatap ayah dengan sedikit aneh, “Ayah cemburu padaku?” “Padahal ayah sudah memasak agar membuat ibumu terpesona pada ayah,” kata ayah sambil melamun. Kini aku mengerti. Kurasa ibuku bukan tidak bisa. Tetapi itu semua karena ayah yang ngotot untuk masak. Atau memang ibuku tidak bisa. Entahlah, bagian itu aku tak tahu. Yang aku mengerti sekarang ternyata ayahku memasak untuk menarik perhatian ibuku. Ini agak sedikit aneh bagiku. Hidup ini terlalu aneh. Aku selalu terkejut begitu mengetahu sedikit rahasia-rahasia hidupku, ayahku, ataupun ibuku. Walau awalnya aku sempat kecewa juga sih. Kurasa aku harus menerima semuanya. Lagipula aku tak tahu apa yang harus kulakukan jika ibuku mendadak feminim. Setelah kupikir, aku lebih suka ibuku yang sekarang tetapi berhenti bekerja. Cukup dirumah saja, mengurusku dan ayah. Aku tersenyum membayangkan hal itu. “Sou, tadi temanmu kesini saat kau pergi bersama ibu.” “Siapa? Perempuan?” tanyaku sambil berusaha mengingat-ngingat apakah aku membuat janji hari ini. “Ya. Katanya namanya Windhy. Dia agak sedikit pendiam jika ayah lihat.” Aku memukul kepalaku. Oh, sial! Aku memang berjanji akan belajar bersama dengannya! Aku teringat dengan Windhy yang sangat pendiam. Agak susah berteman dengannya dan kini aku hampir merusak persahabatanku. Kurasa, aku harus minta maaf sekarang. Jadi, aku berlari menuju rumahnya yag hanya beberapa blok dari rumahku. Ketika pulang nanti aku akan berbicara pada ayah tentang hal ini. Ternyata tipeku dan ayah memang agak sedikit aneh. Mengingat Windhy adalah orang paling tertutup yang pernah kutemui dan ia masuk ke dalam daftar orang anehku. Dan anehnya, aku malah mati-matian untuk berbicara dengannya, bahkan bersahabat dengannya!

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
 
CAPTCHA
CAPTCHA diperlukan untuk mencegah spam, silakan diisi :)
Type the characters you see in this picture. (verify using audio)
Type the characters you see in the picture above; if you can't read them, submit the form and a new image will be generated. Not case sensitive.

Comments


return to top