Awaken From Darkness
Sebenarnya cerita ini dari FB-ku dan pernah ku upload di forum lain sbg side story. Tapi mohon komentarnya ^^
***
Langit yg tetap menatapku dg raut wajah yg membuat semua orang yg menatap balik padanya, dan senyuman yg terpancar pada orang-orang itu, kecuali diriku. Pada hari ini, aku tetap duduk ditemani oleh Friz, satu-satunya temanku, dan yg hanya mendengarkan keluh kesalku, terhadap nasib yg telah menentukan jalan hidupku. Bersandarkan pada cerobong asap pada atap rumah, aku hanya berbicara sendiri, entah apakah Friz mendengar setiap ocehan yg keluar dari mulutku, atau sedang menjilati bulu-bulunya yg halus, tapi hal itu yg membuatku tetap berdiri pada jalan kehidupan yg ada didepanku, membentang jauh sepanjang matahari yg tetap menyinari rumah, ladang, dan hutan dg cahaya paginya.
Tapi... Aku tetap ingin keluar dari jalan itu...
Lamunanku terhenti, terdengar sebuah ketukan pelan pada pintu rumah, tempatku terkekang dari kehidupan bebas. Dan aku menerimanya, sebagai sebuah berkah Tuhan yg tetap melindungiku. Setiap langkah yg mengiringiku pada asal ketukan yg membuyarkan lamunanku, terasa lebih ringan dari perasaanku saat menjalani hidupku, dg berkah-Nya yg terus memberkatiku. Pintu yg ada didepanku, dg suara ketukan yg tetap berirama, membuatku sedikit ragu utk membukanya. Dan pintu itu terbuka sebesar celah yg membuatku dpt melihat siapa yg mengetuk pintu.
Tidak ada siapa pun yg mengetuk pintu, Sempatku berpikir bahwa ada ciptaan-Nya yg lain melakukannya, sampai pandanganku merendah, dan sesosok anak kecil yg duduk diantara teras dan pintu. Sebuah tatapan polos yg memandangku, dari seorang anak kecil misterius didepan rumahku. Dia mulai berdiri dg tenang, sepertiku saat menemukan barang yg hilang. Tangannya yg terus berada disampingnya, sekarang seperti menyembunyikan sesuatu dari balik mantel merah yg dipakainya. Tanpa memalingkan wajah polosnya, anak kecil itu seperti mengambil sesuatu dari balik tubuhnya.
Tongkat kayu, Dan anak itu mulai memukul-mukul udara ke arahku, seperti mengusir anjing liar yg mendekatinya. Aku yg sedikit merasakan sakit karena tongkat itu, menutup dan menyadarkan diri pada pintu. Tubuhku perlahan merosot hingga terduduk bersandarkan pintu.
Bahkan anak kecil ikut membenciku, jiwa yg putih pun ternyata menangis ketakutan karena kehadiranku didepan mereka. Apa ini yg Engkau berikan padaku sebagai berkah, atau sebagai cobaan...
Air mata mengalir mengikuti lesung pipiku, tanganku yg ikut menyekanya sedikit bergetar saat menyadari kenyataan bahwa hidupku adalah, Jalan yg terputuskan jurang meski diterangi cahaya-Nya. Isak tangis yg semakin membuatku menyesali keberadaanku di desa ini. Friz yg berjalan menghampiriku, mulai mengusapkan kepalanya pada kakiku, memintaku utk berhenti menangis dan memberikan makanan, dan dia tdk pernah tahu apa yg setiap saat aku rasakan saat menatap ke arah luar jendela dapur.
***
Melihat Friz yg dg tenang melahap makanannya, membuatku iri terhadap kehidupan yg dialami Friz, damai dan tentram, seolah-olah dia ikut mengalir mengarungi sungai kecil kehidupan yg tanpa batu-batu rintangan dan cobaan. Meninggalkan kedamaian itu, aku menuju kamar tidurku.
Sebuah buku kecil, yg sedang kupegang dan segelas susu. Kini aku berada diberanda kamarku, yg berada dilantai dua rumah ini. Hanya satu kegiatan yg selalu kulakukan saat langit mulai berubah, menulis sebuah buku harian, menuliskan do'a dan pujian pada-Nya serta menuangkan kebosananku di rumah ini, di desa ini.
Hari keempat belas setelah hujan terakhir kali turun di desa ini.
Dua minggu bukanlah waktu yg sebentar, tapi selama mungkin ada di desa ini. Entah sejak kapan, tapi yg kutahu adalah, sebelum aku lahir, berkah Tuhan tidak lagi turun di desa ini. Mereka menganggap Tuhan sudah tidak lagi ingat tentang desa ini, tentang para biarawan dan biarawati selalu memanjatkan do'a kepadanya setiap satu minggu sekali, tentang anak-anak yg bernyanyi memujinya ketika musim berganti, ketika bayi yg terlahir dan ibu mereka berdo'a kepada-Nya utk keselamatan bayi tersebut, bahkan ketika mereka mulai menari dan menyanyi saat perayaan pesta panen, mensyukuri setiap butir gandum, tangkai jagung yg mereka tanam kini telah memberikan makanan yg cukup utk musim dingin.
Tapi mereka menganggapku sebagai sebuah dosa, hingga Tuhan tdk lagi memberkahi desa ini dengan datangnya musim hujan, atau hujan yg selalu datang saat cuaca panas, dan orang-orang menganggapku sebagai orang yg menerima hukuman dari-Nya. Tapi para Biarawati itu menganggap itu sebagai sebuah cobaan, ujian karena desa ini terlelap akan semua berkah yg Dia turunkan.
Dari tempatku duduk, dapat kulihat beberapa anak yg berkumpul tak jauh dari rumahku, dan mereka mulai berjalan beriringan kearahku. Mungkinkah mereka teman-teman dari anak yg tadi didepan pintu, tapi sudah kuanggap sebagai kejadian yg biasa, sering terjadi padaku dan tidak hanya anak-anak, orang dewasa pun bersikap seperti itu padaku. Dan hal itu kuterima sebagai ujian, bukan sebagai kutukan.
Perhatianku terusik saat beberapa anak itu mulai menggangguku, dg suara ribut dibawah. Dan sebuah batu melayang menuju arah kamarku, lalu kulihat anak-anak itu mulai melempariku dg batu, dan semua benda-benda yg bisa dijadikan lemparan. Aku berusaha menghindari lemparan batu yg semakin banyak, dan menutup pintu beranda kamarku. Suara batu yg mengenai pintu, tetap terdengar dg jelas meski aku sudah menutup kedua telingaku. Dan suara pecahan kaca yg berhamburan disampingku, semakin membuatku takut. Dengan langkah tertatih-tatih, aku menjauhi pintu dan jendela yg ada didekatnya. Setiap detik aku berusaha menghapus kenyataan bahwa aku sudah tidak diterima di desa ini, semakin membuatku menderita. Hanya diam dan menerima segala cobaan yg ditimpakan padaku, tapi cobaan itu semakin berat kuhadapi, mengalaminya seorang diri.
Setelah berada di ruang tengah, aku mendekatkan diri pada perapian, mencoba berdo'a agar ujian yg Engkau berikan dapat kuhadapi dg tabah. Sebuah bait nyanyian yg kulantunkan, sebagai do'a agar aku dapat menapaki jalan yg terus terbentang diantara malam dan siang, menggoyahkan keyakinanku bahwa cahaya-Nya padaku belumlah pudar.
Dan hari ini, aku bersandarkan pada kursi kecil di dekatku, dan berharap besok adalah hari kedatangan berkah pada desa ini, sekali lagi.
Comments
-
since
Submitted by kiky2hikaru on 29 April, 2011 - 19:22.since i already collected sherlock holmes's novels
KIKY HIKARU AND YUMI HIKARI..... -
cool, Hikaru san is reading
Submitted by Crow on 29 April, 2011 - 19:18.cool, Hikaru san is reading stories too.. i don't know you were doing that too
I am not person worthy of your concern -
nice
Submitted by kiky2hikaru on 29 April, 2011 - 19:16.nice story as always i read yours
KIKY HIKARU AND YUMI HIKARI..... -
sebenernya sih cuma satu
Submitted by kakeki on 4 January, 2011 - 20:48.sebenernya sih cuma satu cerita ini aja, tp thx yg dah baca / ksh komentar
mungkin nanti ada kelanjutannya...I read Comic, not make it. Except stories. -
sinopsis nya udh bagus tuh :D
Submitted by cho on 4 January, 2011 - 01:14.sinopsis nya udh bagus tuh

-
judul
Submitted by kiky2hikaru on 3 January, 2011 - 14:31.awakens from darkness...
dari judulnya aja dah menarik
dapet ide darimana?
KIKY HIKARU AND YUMI HIKARI..... -
bagus
Submitted by ddum_RyuZentju on 3 January, 2011 - 13:30.cerita cukup panjang dan sangat bagus isi.nya
-
buset
Submitted by Januar Q Chaiianc on 3 January, 2011 - 11:33.eh buset ngenas bgt nih ank, uda gitu ga ada perlawanan lagi, klo wa uda bls dah ga pake doa, btw good job, ini ga usa d bikin komik d bikin cerita bergambarpun uda patut d ikuti nih soalny seru, thx uda partisipasi d komikoo my friend
With the Great Power Comes the Great Responsibility -
bisa ditambah dengan gambar
Submitted by tri yuliati on 3 January, 2011 - 08:27.bisa ditambah dengan gambar atw animasi gitu,,, biar lebih seru aja ngeliatnya
-
kualitas
Submitted by kiky2hikaru on 2 January, 2011 - 19:13.kualitasnya boleh juga....
ditambah kreativitas yang melejit
KIKY HIKARU AND YUMI HIKARI.....















































Post new comment