aku, koin2, dan pengamen.. (maap gag gue sebut misisi jalanan, abisnya, gag semua pengamen itu musisi sih... hehehe, Gomennasai.. ^^)

chan-lillis
cerita...
Others
1.75
384 kali
0 kali

not admin's choice

Hari itu, matahari nampak kurang semangat menyinari bumi, atau mungkin karena ia mulai lelah.. Aku membuka pintu kamar kost ku lalu melangkah dg tertatih keluar rumah, mencari dia yang ku sebut pengetahuan. Seperti biasa, aku duduk di sebuah kursi tua dg lebar sekitar 20 cm panjang 1 m dan tinggi 50 cm, menanti sebuah benda besar berwarna hijau bertubuh besi berjiwa mesin, dialah kopaja. Semenit, duamenit, tigamenit hingga hampir setengah jam benda hijau itu tak kunjung datang.. Aku mulai melamun, mengembara dalam pikiranku, berharap tiba-tiba ada sebuah acara televisi beserta presenternya menghampiriku, mewawancaraiku, menanyaiku sedang apa lalu mengajakku dengan mobil dinas mereka mengantarku ke kampus tercinta, yang sering orang sebut-sebut sbg universitas neraka jahannam. Terdengar kejam memang menyebutnya demikian.Terlalu jauh aku terseret arus lamunanku, tiba2 kudengar suara gemuruh, kupikir ada badai, aku langsung tersentak, ternyata suara itu datang dari knalpot benda hijau yang Sudah kutunggu sekian lama. Tanpa basa basi benda hijau beserta seorang manusia yg berdiri dipintu sambil teriak "kampung melayu, kampung melayu" melewatiku.. Aku yang baru tersadar dari lamunanku butuh waktu beberapa saat untuk mencerna bahwa mestinya aku tlah menaikinya, ya, kopaja. Akupun segera berlari mengejarnya, berharap aku seperti sonik, muncul api dikakiku, dan membantuku lari dg kencang untuk mengejarnya. Untung saja sebuah lampu merah menyelamatkanku, menghentikan kopaja yang kukejar itu. Lalu, tiba2 nampak tangan kiri yang berusaha meraihku, dialah tangan bang kenek, orang yg dari tadi teriak kampung melayu dan kampung melayu.Akhirnya, aku pun naik kopaja, kupandang semua sudut, semua sisi dalam bus itu, mencari 'jok' kosong yg bisa pantatku tindih menuju kampung melayu, ternyata, mataku tak mampu menemukannya, akupun berdiri sepanjang jalan, pura2 menikmati pemandangan jalan raya dan mobil2 pencetus global warming itu.Waktu berlalu, sampailah aku dikampung melayu Mataku langsung mencari benda orange besar berangka 46 di kerumunan bus2 itu, dan aku berhasil, dialah metromini. Aku menemukannyaa . Dg segera aku melangkah, melewati lautan mobil (bc: nyebrang), dan langsung kunaiki metromini itu. Tanpa pikir panjang, supir metromini itupun segera menancap gas, menggerakkan bus ke pulogadung. Aku senang, karena tak harus terlalu lama menanti benda ini bergerak.Ditengah jalan.. Tiba2 masuklah beberapa pria, mungkin mereka masih masa remaja akhir atau dewasa awal, pakaian mereka lusuh, kotor, sedikit aL4y dan pelangi dirambutnya. Dengan lantang mereka berteriak "bapak2, ibu2, kakak2 semuanya, saya yakin dalam metromini ini masih ada orang berjiwa besar, 500 perak, seribu, duaribu yang kalian beri tak akan membuat kami kaya, ataupun kalian menjadi miskin. Kami lapar. Jangan anggap kami seperti patung pancoran yang tidak merasa lapar, janggan anggap kami robot ataupun benda mati, kami juga sama seperti kalian. Kita semua sama pak, bu, kak ya... kita satu bangsa, satu negara, yang pasti tidak satu penderitaan, keikhlasan ibu, bapak, kakak2 semuanya, adalah berkah bagi kami". Dengan sigap salah satu dari mereka melepas topi dan menadahkan kesetiap penghuni sementara metromini, satu persatu terlewati, tak satu koinpun singgah dalam topi itu, yg ada hanya mata2 yang menakutkan, menatap dg keji, dan ada pula yang seolah berpura2 tidak merasakan kehadiran siapapun disana, selain dirinya sendiri. ada salah seorang dari pria2 itu mengulang kata2 yang telah mereka orasikan tadi. Hingga tibalah saat topi itu menghampiriku, dengan hati miris ku lekatkan telapak tanganku satu samalain, ku angkat, dan kutaruh di dpn dadaku, dg nada minor dan suara agak ragu, aku berkata "maaf" serta merta ku tundukkan kepalaku sekitar 45 derajat, dan kubiarkan topi itu beserta pemiliknya melewatiku.Dengan muka agak masam, adapula yang sedikit mengeluh, dan ada juga yang tetap teriak dan tertawa, mereka keluar dari metromini, berusaha mencari rizki Mereka dalam bus2 lainnya.Tak lama kemudian, tiba2 metromini berhenti, aku pikir bahan bakarnya habis, tapi ternyata aku salah. Ada seorang penumpang yang hendak turun. Tak hanya itu, ternyata naiklah seorang bapak tua, ya sebenarnya dia belum setua yang kau bayangkan, ia datang bersama botol yakul berisi beras ditangannya, kemejanya sudah lumayan lusuh, beberapa jenggotnya mulai memutih. Dengan senyum lebar ia menyapa di depan pintu bus "assalamu'ailaiku bapak2, ibu2, mas2, mba2, adik2 semua, izinkan saya mengganggu perjalanan anda sebentar dg menyanyikan sebuah lagu lawas dari bang haji rhoma irama" dua detik telah berlalu, dan bapak tua itu mulai mendendangkan lagu kebanggaannya itu. Masih dengan senyum lebarnya, dan tampang baik2nya. Beberapa menit telah berlalu, iapun berhasil menyelesaikan lagunya, meski dg beberapa kali kesalahan lirik, melenceng dari nada, dan beberapa kali tak jelas ia berkata apa, dg segera ia mengakhiri dan menyampaikan penutup "ya, terimakasih bapak2, ibu2 Semoga keikhlasan kalian memberikan berkah bagi kami, dan pahala untuk kalian, amin, wassalamu'alaikum". Tanpa basa basi ia keluarkan bungkus permen relaksa yang sudah lusuh dari kantong celananya. Ia mulai mengembarakannya ke penumpang demi penumpang. Dan lagi. Tak satu koinpun singgah disana. Hal yang terjadi beberapa menit lalu, kembali terjadi. Tentang mata2 itu, dan sikap2 penghuni sementara metromini itu. Hal yang kulakukan ketika bungkus relaksa itu menghampiriku, sama seperti ketika topi itu menghampiriku beberapa menit lalu. Tak bermaksud pelit, sungguh, tapi apalah daya, aku sendiri sudah dua hari tak mengkonsumsi benda putih bernama nasi. Uang sakuku pas2an, dan beberapa receh dikantong tasku akan kugunakan untuk membayar arisan.Tak ada koin, dalam bungkus relaksa kusut itu, begitupun kertas2 bergambarkan pahlawan patimura, juga tak ada. Dengan singkat, padat, dan cukup jelas pria tua itu berkata "kafir semua", ya, pak tua itu mengatai semua penghuni sementara metromini ini, Tak terkecuali, aku. Aku langsung tersentak, mungkin juga krn dalam kondisi lapar, aku sangat sensitif, aku marah, mengerutkan alis dan mengerucutkan bibirku. Aku berpikir, ya tuhan, koin2 telah meracuni pikiran pak tua itu. Senyum manis nan lebarnya, serta wajah polos baiknya, tutur lembut katanya beberapa menit lalu, terbeli koin. Ya, karena koin yang tak didapatkannya, ia telah berkata seperti itu, menyebut kami kafir, tanpa ia pahami apa yang juga terjadi padaku, aku yang juga tak makan karena tak ada uang.Aku menggelengkan kepala, lalu menatap ke jendela penuh debu di sampingku. Tak lama, sampailah aku dikampus tercintaku, ya UNJ.Tanpa maksud menghindar dr hukum islam untuk mendahulukan yg kanan, aku turun dr bus dg kaki kiriku, seperti instruksi yg ku dapat dari bang kenek. Aku jadi penghuni kampus, daksinapati, fip, hingga jam 8 pm. Senang sekali rasanya ketika dosen telah menyuarakan "ya, pertemuan kita sampai sini saja, sampai jumpa besok" karena itu artinya pulang. Bersama beberapa kawanku, kami melangkah pulang. Tibalah depan zebrakros dekat bni 46 unj, dg sigap aku pegangi tangan teman2ku sembari berkata "ayo, gue sebrangin", sebenarnya, bukan karena aku pandai menyebrang jalan raya, itu karena sebenarnya aku tidak ingin ketinggalan waktu nyeberang, aku butuh waktu yg lebih lama bila harus nyebrang sendirian. Ya, karena aku juga butuh waktu yg lebih lama hanya untuk memutuskan kpan kakiku melangkah melewati lautan mobil itu.Tak lama, bus langgananku datang, benar, metromini 46. Beruntung, karena kali ini ada yang menemaniku, meski hanya sampai matraman. Sampailah kami di baypas, dg bus yg kami tumpangi. Bis seraya berhenti. Kupikir karena tak sengaja menelindas ekor kucing, lagi2 aku salah, ternyata memang sudah biasa bus itu berhenti disana. Ku tengok jendela, kutatap keluar bus dr jendela disampingku. Ada banyak pemuda dan pemudi sedang berdansa dan menyanyi dg gitar mereka.. Tentu, bypas, pangkalan pengamen muda jalur utaka. Pak supir memutuskan melanjutkan perjalanan, dengan sigap 2 3 pemuda naik dalam bus, ada yang membawa gitar, benda aneh mirip potongan drumb, ada juga yg hanya bermodalkan tepuk tangan. Mereka menyanyi, mulai mengalunkan nada2 cinta anak muda, akupun menikmatinya, suaranya memang tak sehalus christian bautista, tapi ya sudahlah, tak apa. Satu, dua lagu terselesaikan dg baik. Tibalah saatnya mereka mengharap keikhlasan para penumpang bus tuk menyisihkan beberapa koin untuk mereka. Beruntung, mereka dapatkan apa yang mereka mau, meski ya, memang bukan dari aku. Mereka turun dg senyuman di jembatan komplek, di utaka tentunya.Entahlah, ada apa dg jakarta ini, ratusan, ribuan, jutaan pengamen tumbuh di sini. Warna warni dan sangat bervariasi.Perjalananku belum berakhir, lagi, metromini berhenti, kali ini aku tak mau lagi memperkirakan alasan metromini ini berhenti, aku mulai menduga, dan ya, dugaanku benar, segerombol pengamen hadir kembali, kali ini mereka datang dg persiapan yg matang. Sekitar 5 orang, dg seragam anak punk, lengkap, alat musik pun tak kalah lengkap. 5 detik berlalu, mereka mulai bernyanyi, satu demi satu penumpang telah pergi, tersisalah aku dan beberapa penumpang bus lainnya. Aku merasakan mereka sangat menikmati nyanyian mereka sendiri, lagu tipe-x lah yg mereka dendangkan. Aku juga merasa mereka terlalu berlebihan, seperti menganggap bus ini sebagai panggung aksi mereka, bak group band netral mereka menikmati konser mereka dalam bus. Satu lagu tlah usai. Seperti biasa, koin, dan koin. sebenarnya tak hanya koin, kertas bergambar pahlawan patimura hingga tuanku imam bonjol tak luput dari incaran.

Entahlah, mungkin karena tampang mereka yang cukup menyeramkan, meski memang tak lebih seram dari pahlawan bertopeng, hampir semua penghuni bus memberi mereka koin dan beberapa lembar bernama uang, kecuali aku, sudah kubilang, aku sedang sangat krisis keuangan, meski begitu, dengan sopan ku ucap "maaf", mereka pun terlihat menerima kata maaf ku. Berbeda dg temanku, Ia terus menatap ke jendela, menghindari kontak dg para pengamen2 itu, tanpa koin, juga tanpa kata maaf.Tiba2 saja para pengamen itu berteriak, marah, membentak kami, mencaci dan mencela kami, menghujani kami dg kata2 kasar, tak luput juga 'hujan" karna cara bicara mereka. Aku hanya terdiam, menghindari kontak mata dg mereka, ingin menatap mereka, tapi takut tiba2 mata mereka memancarkan sinar merah yg bisa membunuhku.Cukup lama, mereka berteriak, tak kalah seperti mahasiswa2 yg demo mengorasikan hal2 apa saja yg tak sejalan dg pikiran mereka. Akhirnya mereka pun mulai berhenti, mungkin karena lelah, atau karena mereka tak mau menghabiskan suara mereka disini, tentu karna masih ada jadwal konser dlm bus lainnya. Satu persatu mereka turun meninggalkan bus, suasana tiba2 sepi, seperti menonton tivi dan diatur mute, senyap, tak lama, temanku pun turun meninggalkanku sendiri."haaa...h", aku menghela napas sesampainya aku di kp.melayu, aku hilang kontrol, menghirup oksigen terlalu dalam Hingga hampir membuatku mati keracunan. Aroma kencing yang membumbui terminal hampir membunuhku, masuk kerongga pernapasanku hingga membuatku sulit bernapas. Aku melanjutkan perjalanan pulang menuju kost ku yg menyerupai kotak sabun, aku berjalan menunduk sambil memandangi langkah kakiku, serta rok panjangku yang melambai hampir menyapu tanah.Ku sempatkan memandang ke arah sebelah kiri bahuku, kulihat pemuda sedang mengelus biolanya, biola yang menemaninya menyanyi dalam bus2 demi koin2 penyambung hidup.Hari ini aku sangat lelah, dan lapar, berharap kutemui hujan makanan lezat, tapi dg segera aku tersadar bahwa itu tak mungkin.Sudah hampir jam 9, tak ada kopaja lagi, yang tersisa kini mobil berwarna biru muda, ya, mikrolet. Aku pun memutuskan menaikinya, tak peduli itu artinya aku butuh jalan kaki lebih jauh untuk sampai tujuan, tak apa.Satu persatu penumpang menaiki mikrolet 44 itu, setelah hampir penuh dan pak supir hampir menancap gas tiba2 ada seorang anak kecil, sangat kecil, Kepalanya botak, belum bisa mengucap "R", badannya sangat kotor, cerumut, ingusnya yg telah kering menghiasi hidung mungilnya, kakinya sangat kotor tanpa alas kaki, bajunya seperti 3 taun tidak dicuci pembantunya, aku pikir dia anak hilang, mungkin saja dia anak orang kaya yg terpisah dr orangtuanya seperti yg ad di sinetron2 di sctv itu, aku mulai simpati. Tiba2 ia membagikan benda putih dr tangannya, potongan amplop, kupikir ini jenis lain angpao, lagi2 aku salah, amplopnya kosong, ternyata benda itu adalah tempat menyisihkan uang, demi kedamaian masa depan bocah itu, karena dibalik amplop itu tertulis "assalamu'alaikum. Bapak2, ibu2, saya disini mencari rupiah untuk membantu ibu saya membayar kontrakan, membeli susu untuk adik saya, serta biaya sekolah saya, terimakasih", aku pun semakin tersentuh, ingin menangis, tapi kuurungkan niatku krn takut ada produser yang tiba2 menawariku main sinetron menggantikan peran nikita willy di sinetron2 yang ada di rcti itu, tapi itu tdk mungkin, Karena aku telah lama tak mengkonsumsi sinetron.Akhirnya ku rogoh saku belakang celana ku, wah, senangnya kutemukan logam kuning bertuliskan Rp.500. Dg segera kumasukan dlm potongan amplop putih itu, beberapa orang juga melakukan hal yang sama, dan beberapa orang lainnya tlh mengembalikan potongan amplop itu dg segera sebelum menyentuhnya hingga 3 detik."ting tong ting tong ting tong", ku dengar suara tanda kereta mau lewat, artinya tlah sampai stasiun, stasiun tebet. anak kecil crumut itu bergegas menariki kembali potongan amplop2 yg telah ia bagi tadi. Kaki kecilnya melangkah turun. Aku sangat tersentak ketika tiba2 seorang laki2 yang tadi berdiri di pintu mikrolet juga ikut turun dan langsung menggendong bocah cerumut tadi, dan meminta semua potongan amplop itu dari tangannya."ya tuhan, ada apa dengan dunia ini?" aku bergumam dalam hati, aku memejamkan mata, menghela napas, tak terasa aku tlah sampai gang menuju tempat kostku. Aku turun. Melangkah dg perlahan, Sesekali menatap langit, ternyata gerimis, aku tetap berjalan dg perlahan, membiarkan otakku beristirahat beberapa detik, hingga akhirnya dengan lemah aku berlari dalam hujan menuju pulang.

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
 
CAPTCHA
CAPTCHA diperlukan untuk mencegah spam, silakan diisi :)
Type the characters you see in this picture. (verify using audio)
Type the characters you see in the picture above; if you can't read them, submit the form and a new image will be generated. Not case sensitive.

Comments

  • kiky2hikaru's picture

    ohh...

    1

    ohh..gitu toh...
    jiahh..disamain ama dosen Tongue
    lol Laughing out loud

    KIKY HIKARU AND YUMI HIKARI.....
  • chan-lillis's picture

    ^^

    3

    hehehe iyah... sebenernya gue tau tentang banyaknya kesalahan penulisan dan ejaan...
    ya... bikin note-nya pake hape. tanpa edit (lagi malas), gue post..

    mungkin lain kali mestinya di edit dulu biar bener... Laughing out loud
    (jadi inget dosen gue yang suka ngomel kalo kalo ada mahasiswanya yang nulisnya disingkat2, apa lagi kesalahan ejaan.. -__-")

    makasih kritiknya... ^^

    hidup adalah bernapas. titik
  • kiky2hikaru's picture

    wew...

    1

    ceritanya sih bermakna sekali...
    sayangnya....banyak kesalahan tata bahasa..
    seperti contohnya angka

    KIKY HIKARU AND YUMI HIKARI.....
  • Crow's picture

    too much for my mind to

    1

    too much for my mind to bear..
    well..i do read half of the story but when i think how long is this paragraph..and i found out it is as crazy as hell..
    about how you present stuff i think you are just well explaining too much thing and that makes lots of..not fun thing.

    but this is talking about your daily life right? i am not reading them carefully but i do read them well just like scanning.

    I am not person worthy of your concern
  • 33 san's picture

    oh my God, sorry if I say

    2

    oh my God, sorry if I say this tapi.... riweuh sekali ceritanya seperti kereta api, tidak ada spasi ^^; bisa dieditkah ya? Maaf kalau saya menyinggung DX


return to top