Hari itu, matahari
nampak kurang semangat menyinari bumi, atau mungkin karena ia mulai
lelah.. Aku membuka pintu kamar kost ku lalu melangkah dg tertatih
keluar rumah, mencari dia yang ku sebut pengetahuan.
Seperti
biasa, aku duduk di sebuah kursi tua dg lebar sekitar 20 cm panjang 1 m
dan tinggi 50 cm, menanti sebuah benda besar berwarna hijau bertubuh
besi berjiwa mesin, dialah kopaja. Semenit, duamenit, tigamenit hingga
hampir setengah jam benda hijau itu tak kunjung datang.. Aku mulai
melamun, mengembara dalam pikiranku, berharap tiba-tiba ada sebuah acara
televisi beserta presenternya menghampiriku, mewawancaraiku, menanyaiku
sedang apa lalu mengajakku dengan mobil dinas mereka mengantarku ke
kampus tercinta, yang sering orang sebut-sebut sbg universitas neraka
jahannam. Terdengar kejam memang menyebutnya demikian.Terlalu jauh aku
terseret arus lamunanku, tiba2 kudengar suara gemuruh, kupikir ada
badai, aku langsung tersentak, ternyata suara itu datang dari knalpot
benda hijau yang Sudah kutunggu sekian lama. Tanpa basa basi benda hijau
beserta seorang manusia yg berdiri dipintu sambil teriak "kampung
melayu, kampung melayu" melewatiku.. Aku yang baru tersadar dari
lamunanku butuh waktu beberapa saat untuk mencerna bahwa mestinya aku
tlah menaikinya, ya, kopaja. Akupun segera berlari mengejarnya, berharap
aku seperti sonik, muncul api dikakiku, dan membantuku lari dg kencang
untuk mengejarnya. Untung saja sebuah lampu merah menyelamatkanku,
menghentikan kopaja yang kukejar itu. Lalu, tiba2 nampak tangan kiri
yang berusaha meraihku, dialah tangan bang kenek, orang yg dari tadi
teriak kampung melayu dan kampung melayu.Akhirnya, aku pun naik kopaja,
kupandang semua sudut, semua sisi dalam bus itu, mencari 'jok' kosong yg
bisa pantatku tindih menuju kampung melayu, ternyata, mataku tak mampu
menemukannya, akupun berdiri sepanjang jalan, pura2 menikmati
pemandangan jalan raya dan mobil2 pencetus global warming itu.Waktu
berlalu, sampailah aku dikampung melayu Mataku langsung mencari benda
orange besar berangka 46 di kerumunan bus2 itu, dan aku berhasil, dialah
metromini. Aku menemukannyaa . Dg segera aku melangkah, melewati lautan
mobil (bc: nyebrang), dan langsung kunaiki metromini itu. Tanpa pikir
panjang, supir metromini itupun segera menancap gas, menggerakkan bus ke
pulogadung. Aku senang, karena tak harus terlalu lama menanti benda ini
bergerak.Ditengah jalan.. Tiba2 masuklah beberapa pria, mungkin mereka
masih masa remaja akhir atau dewasa awal, pakaian mereka lusuh, kotor,
sedikit aL4y dan pelangi dirambutnya. Dengan lantang mereka berteriak
"bapak2, ibu2, kakak2 semuanya, saya yakin dalam metromini ini masih ada
orang berjiwa besar, 500 perak, seribu, duaribu yang kalian beri tak
akan membuat kami kaya, ataupun kalian menjadi miskin. Kami lapar.
Jangan anggap kami seperti patung pancoran yang tidak merasa lapar,
janggan anggap kami robot ataupun benda mati, kami juga sama seperti
kalian. Kita semua sama pak, bu, kak ya... kita satu bangsa, satu
negara, yang pasti tidak satu penderitaan, keikhlasan ibu, bapak, kakak2
semuanya, adalah berkah bagi kami". Dengan sigap salah satu dari mereka
melepas topi dan menadahkan kesetiap penghuni sementara metromini, satu
persatu terlewati, tak satu koinpun singgah dalam topi itu, yg ada
hanya mata2 yang menakutkan, menatap dg keji, dan ada pula yang seolah
berpura2 tidak merasakan kehadiran siapapun disana, selain dirinya
sendiri. ada salah seorang dari pria2 itu mengulang kata2 yang telah
mereka orasikan tadi. Hingga tibalah saat topi itu menghampiriku, dengan
hati miris ku lekatkan telapak tanganku satu samalain, ku angkat, dan
kutaruh di dpn dadaku, dg nada minor dan suara agak ragu, aku berkata
"maaf" serta merta ku tundukkan kepalaku sekitar 45 derajat, dan
kubiarkan topi itu beserta pemiliknya melewatiku.Dengan muka agak masam,
adapula yang sedikit mengeluh, dan ada juga yang tetap teriak dan
tertawa, mereka keluar dari metromini, berusaha mencari rizki Mereka
dalam bus2 lainnya.Tak lama kemudian, tiba2 metromini berhenti, aku
pikir bahan bakarnya habis, tapi ternyata aku salah. Ada seorang
penumpang yang hendak turun. Tak hanya itu, ternyata naiklah seorang
bapak tua, ya sebenarnya dia belum setua yang kau bayangkan, ia datang
bersama botol yakul berisi beras ditangannya, kemejanya sudah lumayan
lusuh, beberapa jenggotnya mulai memutih. Dengan senyum lebar ia menyapa
di depan pintu bus "assalamu'ailaiku bapak2, ibu2, mas2, mba2, adik2
semua, izinkan saya mengganggu perjalanan anda sebentar dg menyanyikan
sebuah lagu lawas dari bang haji rhoma irama" dua detik telah berlalu,
dan bapak tua itu mulai mendendangkan lagu kebanggaannya itu. Masih
dengan senyum lebarnya, dan tampang baik2nya.
Beberapa menit telah
berlalu, iapun berhasil menyelesaikan lagunya, meski dg beberapa kali
kesalahan lirik, melenceng dari nada, dan beberapa kali tak jelas ia
berkata apa, dg segera ia mengakhiri dan menyampaikan penutup "ya,
terimakasih bapak2, ibu2 Semoga keikhlasan kalian memberikan berkah bagi
kami, dan pahala untuk kalian, amin, wassalamu'alaikum".
Tanpa
basa basi ia keluarkan bungkus permen relaksa yang sudah lusuh dari
kantong celananya. Ia mulai mengembarakannya ke penumpang demi
penumpang. Dan lagi. Tak satu koinpun singgah disana. Hal yang terjadi
beberapa menit lalu, kembali terjadi. Tentang mata2 itu, dan sikap2
penghuni sementara metromini itu. Hal yang kulakukan ketika bungkus
relaksa itu menghampiriku, sama seperti ketika topi itu menghampiriku
beberapa menit lalu. Tak bermaksud pelit, sungguh, tapi apalah daya, aku
sendiri sudah dua hari tak mengkonsumsi benda putih bernama nasi. Uang
sakuku pas2an, dan beberapa receh dikantong tasku akan kugunakan untuk
membayar arisan.Tak ada koin, dalam bungkus relaksa kusut itu, begitupun
kertas2 bergambarkan pahlawan patimura, juga tak ada. Dengan singkat,
padat, dan cukup jelas pria tua itu berkata "kafir semua", ya, pak tua
itu mengatai semua penghuni sementara metromini ini, Tak terkecuali,
aku. Aku langsung tersentak, mungkin juga krn dalam kondisi lapar, aku
sangat sensitif, aku marah, mengerutkan alis dan mengerucutkan bibirku.
Aku berpikir, ya tuhan, koin2 telah meracuni pikiran pak tua itu.
Senyum manis nan lebarnya, serta wajah polos baiknya, tutur lembut
katanya beberapa menit lalu, terbeli koin. Ya, karena koin yang tak
didapatkannya, ia telah berkata seperti itu, menyebut kami kafir, tanpa
ia pahami apa yang juga terjadi padaku, aku yang juga tak makan karena
tak ada uang.Aku menggelengkan kepala, lalu menatap ke jendela penuh
debu di sampingku. Tak lama, sampailah aku dikampus tercintaku, ya
UNJ.Tanpa maksud menghindar dr hukum islam untuk mendahulukan yg kanan,
aku turun dr bus dg kaki kiriku, seperti instruksi yg ku dapat dari bang
kenek. Aku jadi penghuni kampus, daksinapati, fip, hingga jam 8 pm.
Senang sekali rasanya ketika dosen telah menyuarakan "ya, pertemuan kita
sampai sini saja, sampai jumpa besok" karena itu artinya pulang.
Bersama beberapa kawanku, kami melangkah pulang. Tibalah depan zebrakros
dekat bni 46 unj, dg sigap aku pegangi tangan teman2ku sembari berkata
"ayo, gue sebrangin", sebenarnya, bukan karena aku pandai menyebrang
jalan raya, itu karena sebenarnya aku tidak ingin ketinggalan waktu
nyeberang, aku butuh waktu yg lebih lama bila harus nyebrang sendirian.
Ya, karena aku juga butuh waktu yg lebih lama hanya untuk memutuskan
kpan kakiku melangkah melewati lautan mobil itu.Tak lama, bus
langgananku datang, benar, metromini 46. Beruntung, karena kali ini ada
yang menemaniku, meski hanya sampai matraman. Sampailah kami di baypas,
dg bus yg kami tumpangi. Bis seraya berhenti. Kupikir karena tak sengaja
menelindas ekor kucing, lagi2 aku salah, ternyata memang sudah biasa
bus itu berhenti disana. Ku tengok jendela, kutatap keluar bus dr
jendela disampingku. Ada banyak pemuda dan pemudi sedang berdansa dan
menyanyi dg gitar mereka.. Tentu, bypas, pangkalan pengamen muda jalur
utaka. Pak supir memutuskan melanjutkan perjalanan, dengan sigap 2 3
pemuda naik dalam bus, ada yang membawa gitar, benda aneh mirip potongan
drumb, ada juga yg hanya bermodalkan tepuk tangan. Mereka menyanyi,
mulai mengalunkan nada2 cinta anak muda, akupun menikmatinya, suaranya
memang tak sehalus christian bautista, tapi ya sudahlah, tak apa. Satu,
dua lagu terselesaikan dg baik. Tibalah saatnya mereka mengharap
keikhlasan para penumpang bus tuk menyisihkan beberapa koin untuk
mereka. Beruntung, mereka dapatkan apa yang mereka mau, meski ya, memang
bukan dari aku. Mereka turun dg senyuman di jembatan komplek, di utaka
tentunya.Entahlah, ada apa dg jakarta ini, ratusan, ribuan, jutaan
pengamen tumbuh di sini. Warna warni dan sangat bervariasi.Perjalananku
belum berakhir, lagi, metromini berhenti, kali ini aku tak mau lagi
memperkirakan alasan metromini ini berhenti, aku mulai menduga, dan ya,
dugaanku benar, segerombol pengamen hadir kembali, kali ini mereka
datang dg persiapan yg matang. Sekitar 5 orang, dg seragam anak punk,
lengkap, alat musik pun tak kalah lengkap. 5 detik berlalu, mereka mulai
bernyanyi, satu demi satu penumpang telah pergi, tersisalah aku dan
beberapa penumpang bus lainnya. Aku merasakan mereka sangat menikmati
nyanyian mereka sendiri, lagu tipe-x lah yg mereka dendangkan. Aku juga
merasa mereka terlalu berlebihan, seperti menganggap bus ini sebagai
panggung aksi mereka, bak group band netral mereka menikmati konser
mereka dalam bus.
Satu lagu tlah usai.
Seperti biasa, koin, dan koin. sebenarnya tak hanya koin, kertas
bergambar pahlawan patimura hingga tuanku imam bonjol tak luput dari
incaran.
Entahlah, mungkin karena tampang mereka yang cukup
menyeramkan, meski memang tak lebih seram dari pahlawan bertopeng,
hampir semua penghuni bus memberi mereka koin dan beberapa lembar
bernama uang, kecuali aku, sudah kubilang, aku sedang sangat krisis
keuangan, meski begitu, dengan sopan ku ucap "maaf", mereka pun terlihat
menerima kata maaf ku. Berbeda dg temanku, Ia terus menatap ke jendela,
menghindari kontak dg para pengamen2 itu, tanpa koin, juga tanpa kata
maaf.Tiba2 saja para pengamen itu berteriak, marah, membentak kami,
mencaci dan mencela kami, menghujani kami dg kata2 kasar, tak luput juga
'hujan" karna cara bicara mereka. Aku hanya terdiam, menghindari kontak
mata dg mereka, ingin menatap mereka, tapi takut tiba2 mata mereka
memancarkan sinar merah yg bisa membunuhku.Cukup lama, mereka berteriak,
tak kalah seperti mahasiswa2 yg demo mengorasikan hal2 apa saja yg tak
sejalan dg pikiran mereka. Akhirnya mereka pun mulai berhenti, mungkin
karena lelah, atau karena mereka tak mau menghabiskan suara mereka
disini, tentu karna masih ada jadwal konser dlm bus lainnya. Satu
persatu mereka turun meninggalkan bus, suasana tiba2 sepi, seperti
menonton tivi dan diatur mute, senyap, tak lama, temanku pun turun
meninggalkanku sendiri."haaa...h", aku menghela napas sesampainya aku di
kp.melayu, aku hilang kontrol, menghirup oksigen terlalu dalam Hingga
hampir membuatku mati keracunan. Aroma kencing yang membumbui terminal
hampir membunuhku, masuk kerongga pernapasanku hingga membuatku sulit
bernapas. Aku melanjutkan perjalanan pulang menuju kost ku yg menyerupai
kotak sabun, aku berjalan menunduk sambil memandangi langkah kakiku,
serta rok panjangku yang melambai hampir menyapu tanah.Ku sempatkan
memandang ke arah sebelah kiri bahuku, kulihat pemuda sedang mengelus
biolanya, biola yang menemaninya menyanyi dalam bus2 demi koin2
penyambung hidup.Hari ini aku sangat lelah, dan lapar, berharap kutemui
hujan makanan lezat, tapi dg segera aku tersadar bahwa itu tak
mungkin.Sudah hampir jam 9, tak ada kopaja lagi, yang tersisa kini mobil
berwarna biru muda, ya, mikrolet. Aku pun memutuskan menaikinya, tak
peduli itu artinya aku butuh jalan kaki lebih jauh untuk sampai tujuan,
tak apa.Satu persatu penumpang menaiki mikrolet 44 itu, setelah hampir
penuh dan pak supir hampir menancap gas tiba2 ada seorang anak kecil,
sangat kecil, Kepalanya botak, belum bisa mengucap "R", badannya sangat
kotor, cerumut, ingusnya yg telah kering menghiasi hidung mungilnya,
kakinya sangat kotor tanpa alas kaki, bajunya seperti 3 taun tidak
dicuci pembantunya, aku pikir dia anak hilang, mungkin saja dia anak
orang kaya yg terpisah dr orangtuanya seperti yg ad di sinetron2 di sctv
itu, aku mulai simpati. Tiba2 ia membagikan benda putih dr tangannya,
potongan amplop, kupikir ini jenis lain angpao, lagi2 aku salah,
amplopnya kosong, ternyata benda itu adalah tempat menyisihkan uang,
demi kedamaian masa depan bocah itu, karena dibalik amplop itu tertulis
"assalamu'alaikum. Bapak2, ibu2, saya disini mencari rupiah untuk
membantu ibu saya membayar kontrakan, membeli susu untuk adik saya,
serta biaya sekolah saya, terimakasih", aku pun semakin tersentuh, ingin
menangis, tapi kuurungkan niatku krn takut ada produser yang tiba2
menawariku main sinetron menggantikan peran nikita willy di sinetron2
yang ada di rcti itu, tapi itu tdk mungkin, Karena aku telah lama tak
mengkonsumsi sinetron.Akhirnya ku rogoh saku belakang celana ku, wah,
senangnya kutemukan logam kuning bertuliskan Rp.500. Dg segera kumasukan
dlm potongan amplop putih itu, beberapa orang juga melakukan hal yang
sama, dan beberapa orang lainnya tlh mengembalikan potongan amplop itu
dg segera sebelum menyentuhnya hingga 3 detik."ting tong ting tong ting
tong", ku dengar suara tanda kereta mau lewat, artinya tlah sampai
stasiun, stasiun tebet. anak kecil crumut itu bergegas menariki kembali
potongan amplop2 yg telah ia bagi tadi. Kaki kecilnya melangkah turun.
Aku sangat tersentak ketika tiba2 seorang laki2 yang tadi berdiri di
pintu mikrolet juga ikut turun dan langsung menggendong bocah cerumut tadi,
dan meminta semua potongan amplop itu dari tangannya."ya tuhan, ada apa
dengan dunia ini?" aku bergumam dalam hati, aku memejamkan mata,
menghela napas, tak terasa aku tlah sampai gang menuju tempat kostku.
Aku turun. Melangkah dg perlahan, Sesekali menatap langit, ternyata
gerimis, aku tetap berjalan dg perlahan, membiarkan otakku beristirahat
beberapa detik, hingga akhirnya dengan lemah aku berlari dalam hujan
menuju pulang.
Post new comment