Aku dalam "Aku" -part 5-

boam
Slice Of Life
4
470 kali
0 kali

Akhirnya semua tugas kuliahku selesai, lega sekali rasanya, wajahku seperti orang yang selesai buang hajat setelah selama tiga hari tidak buang air besar, tetapi wajah cerahku tidak berlangsung lama, tiba-tiba kepala ku sakit! Aku jadi mulai berhalusinasi.. disekitarku seperti sebuah ruang gelap, hanya ada aku dan puluhan kepala-kepala terpenggal, <AAAARrGGgggHHhh…!!!!> Aku bisa Gila!! Pemandangan yang mengerikan, <Drrrt…drttt…drrrrrrt….> Suara getaran handphone ku, dengan segera aku mengangkat telepon ku, <ugH> kepalaku sedikit tidak enak, sepertinya ada suara mengerang yang terus menggema diotaku,

 

“halo, benar ini dengan rizal personil band gumbastick ya?” sapa seorang wanita dengan lembut,

“iya, siapa nih…?” Aku menjawabnya sedikit datar, aku sedang menahan sesuatu yang melanda otaku,

“ini dengan ina dari panti rehabilitasi narkoba ‘mita’ bogor”

“gw ngga butuh panti rehabilitasi narkoba , gw butuh penyembuh penyakit otak  sialan ini” jawabku sedikit ketus

“oh…sorry..gw ngga maksud untuk nawarin panti rehabilitasi narkoba ke loe, gw Cuma pengen buat janji bisa ga loe manggung akhir bulan ini di acara malam renungan aids, tolong hubungi gw secepatnya ya,ini nomor gw, loe langsung aja rundingan ama temen loe buat kesepakatannya ,masalah bayaran loe juga sekalian sms gw aja, ok….oh iya semangat ya zal…”

<tuut..tuut..tuut...> Suara telepon diputus,

            ”gue sedikit kasar deh kayaknya dengan cewe tadi?” pikirku dalam hati, setidaknya telepon itu memberi tawaran untuk mengisi sebuah acara, band ku akan segera tampil lagi, kali ini aku tidak boleh pingsan saat manggung. Setelah aku mengagkat telepon tadi aku merasakan perasaan yang cukup aneh, suara wanita yang meneleponku membuat hatiku bereaksi, ah...seakan rasa halusinasi ini menghilang dengan cepat, seakan suara wanita yang tadi kudengar memiliki sebuah kekuatan yang memberiku.....  sudahlah, aku tidak peduli. Aku sangat lelah hari ini, dan sekarang aku ingin bersantai melewati hari ini, selama halusinasi yang menggila itu tidak kembali menyerang diriku.

 

Pagi yang cerah menyambut hari yang baru, setiap kali aku bangun tidur aku berfikir sepertinya Tuhan masih memberikan pinjaman satu hari untuk ku hidup, yah, aku tidak akan pernah tahu kapan aku akan mati, kapan aku akan bertemu dengan jodoh ku, kapan aku akan sukses dan memiiki penghasilan sendiri selain dari ngeband, yah. Aku tidakakan pernah tahu bagaimana naskah hidupku yang telah digariskan olehNya.

            “selamat pagi  Anak muda pecundang!”

<AaaaRfgghhh>

Kenapa hari-hari ku tidak bisa lepas dari makhluk ini?, Aku ingin merasakan hari-hari yang biasa, hari yang dialami oleh orang-orang pada umumnya,

            “bagaimana pecundang? Kau mau bunuh diri saja?”

            “…………” aku tidak menghiraukanya

            “Mati adalah jalan terakhir bagi oranag-orang sepertimu, matilah kau pemuda tolol!!!! Kau tak bisa menemukan arti hidup yang di berikan TtttuuHhh….tTttuUuuuhhHhhaaa…akhgrrgh!!”

            “Tuhan maksud mu makhluk aneh?”

Ketika aku mendongak dari tundukanku, makhluk itu telah raib, akhir-akhir ini aku juga jarang melihat makhluk aneh lainya, yah entah mengapa, aneh sekali… bagus lah ini yang ku harapkan dari dulu. Kulihat di atas meja belajarku telah tersedia sarapan dan beberapa butir obat, Aku menghampiri meja belajarku, kulihat selembar kertas bertuliskan

 

            Rizal, Mama dan papa pergi dulu, mungkin besok pagi kami pulang, kakak mu juga masih kerja sampai besok, lalu adik kamu sedang pergi  dengan teman-temanya di daerah puncak, ada acara pramuka dari sekolahnya, malam ini kamu sendiri dirumah ya sayang, obat-obatan juga sudah mama siapkan, makanan juga ada di dalam oven, tinggal kamu angetin aja lagi, okeh… jaga diri yah…

 

 

Sendiri lagi yah? Hmmm… Sepertinya tidak juga, aku selalu bersama dengan makhluk mengerikan itu dan juga dua bocah yang selalu bermain-main di rumah ini,

Baiklah, aku berjalan keluar dari kamarku, dan bocah-bocah itu sedang  duduk dan menatap tajam kearah ku, aku tidak peduli.. sekarang aku ingin pergi ke kampus,  Hari ini tidak ada kuliah tetapi aku ingin latihan band bersama  Johan dan Indra,

<drrrt….drrrrt…drrrrt…> suara handphoneku, segera aku mengambilnya,  ada satu pesan, oh ternyata itu dari Indra dan isinya adalah

 

Zal dimn lu? W Dh sma Johan nh.. kta ktman drmh gw ja y, g ush k’kmpus ! Key

 

Yup…. Lagi-lagi aku akan telat, dengan segera aku mandi dan menaiki motorku,

Aku sampai di rumah Indra, Aku masuk kedalam,

            “whoi Dra han….!” Sapa ku sambil memasuki studio pribadi milik Indra

            “eh, si anak ngaret udah dateng” sindir Johan

            “Biasa lah, Bukan Rizal kalo nggak ngaret, haha” tambah Indra

            “eh.. Biji lo ah… gue punya kabar gembira neh….”

            “apaan zal? Loe nemu duit gope yak?hahahaha” canda Johan

            “aah, ngehe loe, gue serius!”

            “apaan sih emang?” tanya indra penasaran,

            “Minggu depan kita bakal Ngisi acara lagi,”

            “bedeh…. Yoi deh dapet lagi deh uang,” Johan berkata senang

            “zal emangnya kita mau ngisi dimana?” tanya indra semakin penasaran

            “hHmmmmm…kayak di panti rehabilitasi narkoba gitu deh, kalo ga salah namanya MITA”

            “oh.. yaudah deh, lumayan lah….” Jawab indra

            “Buruan deh kita latihan, soal itu loe yang atur ja yak zal!”

             “siip”

Kamipun memulai latihan dengan semangat, aku teringat nanti malam aku akan bertemu dengan Reza, Siip, Aku senang sekali, tidak sabar menunggu nanti malam.

 

            Pulang latihan aku langsung menuju rumah. Terlihat di depan rumahku ada mobil yang sedang di parkir, di samping mobil tersebut ada pemuda yang sepertinya sedang menunggu sesorang, Aku berhentikan motorku di depan orang tersebut, dan ia ternyata adalah Reza,

            “Reza?” tanya ku pada orang tersebut

            “Rizal? Beuh…” kamipun berjabat tangan dan saling berpelukan, sebagai tanda kalu kami benar-benar bersyukur dapat bertemu,

” abis darimana loe?” tanya reza,

            “abis ngeband gue, gila loe berubah drastis yak…. Badan loe kenapa neh sampe kering krontang gini?”

            “yah biasalah… gue terjebak dalam obat-obatan” jawabnya sedikit melesu,

            “ooh.. yudah, yang penting loe bae-bae aja keliatanya..”

            “zal…kita cabut yuk sekarang”

            “sip…sip.. gue naro motor dulu yak”

Setelah itu aku pun masuk ke mobil honda jazz yang berwarna hijau gelap, Aku di bawa olehya ke sebuah tempat, yah tempat yang tidak pernah aku datangi sebelumya.

 

            “Nah, zal, ni tempat gue biasa ngumpul sama anak-anak, gimana keren gak?” Reza membawa ku kesebuah club yang ternama di Jakarta, Aku melihat pemandangan yang belum pernah ku lihat sebelumnya, cewe-cewe dengan pakaian super minim dan bau alkohol yang sudah mulai tercium, meskipun aku belum masuk kedalam tempat itu.

            “whoii zal, bengong loe, lagi mikir jorok yak? Hahaha…”

            “Ah… tai loe, gue baru sekali neh ketempat beginian, jadi pangling aja gue, hehehe” jawab ku sedikit polos,

            “yaudah kita buruan aja yuk masuk”

            “hah?” Tiba-tiba aku mengalami gejala yang seperti aku alami tiap malamnya, kepala ku seperti di tempeleng dengan kunci inggris, sakit sekali..!

            “Za, bentar yah, gue mau ke toilet dulu, loe duluan aja masuk, ntar gue smperin loe lagi” jawab ku sambil berpura-pura seolah aku baik-baik saja.

            “oh, panggilan Sang pantat yak? yaudah deh gw cabut duluan, gue ga mau bawa-bawa orang penuh tinja di perutnya, ntar lo kecepirit lagi, bisa turun pamor gue, hehehe…”

            “Ah.. Anjing loe!, yaudah Gue caw dulu bentar yah.. Tungguin gue didalem!”

            “Sip zal!!”.

            Aku terburu-buru mencari tempat yang cukup sepi, cukup sepi untuk berteriak, Ah.. Bangsat, Kenapa dengan diriku? perlahan aku mulai berhalusinasi, seluruh jalan setapak yang ku lewati berubah menjadi sebuah tempat pemasungan. Banjir darah dimana-mana, setiap aku melangkah ratusan paku menghantam kakiku, dari kejauhan aku melihat sesosok yang biasa datang di kamarku,

“HiyaHahaHiyahaAha… Pecundang tolol, kau mau mati di tempat ini?”

            “UUUghhhh” Aku menutup kedua telingaku, aku tidak mau mendengar ocehan makhluk itu,

            “Kau Ingin MATI Hah? Aroma kematian dekat dengan mu.. Potong saja urat nadi mu sekarang, POTONG PECUNDANG!!!!!”

            “AAAaaaaAARRghhhh” Aku berlari, lalu mencoba untuk berkonsentrasi, didepan aku melisat seekor babi dengan lumuran nanah, <uuuHH> Aku mencoba konsentrasi,

            “Itu taksi” Bagaimana bisa aku mobil taksi seperti babi dengan nanah, dengen segera aku memberhentikan taksi tersebut. Aku segera masuk kedalm mobil taksi,

            ”Mau kemana mas?” tanya sopir taksi itu sopan

            ”Daerah Tebet dalam, buruan bang cabut!!” kepala ku semakin berputar, otakku serasa mau pecah, aku terlihat resah dan was-was, aku memegangi kepala ku, terlihat sopir taksi itu keheranan memandangiku, aku semakin menggila, suara suara mengerikan menggema di otaku, mereka berteriak

            ”Mmati KKAU Ssampah... Maaati Kau SsaMpaaHH!! MmaTi...”

Bangsat!, padahal hari ini aku sangat ingin berbagi cerita dengan reza, tapi makhluk sialan itu terus membayangi setiap langkahku, Kampret!, aku sudah tidak dapat berpikir jernih Aku berteriak,

            ”AAAARRHHHHHHHHHHHHHHHHHH!”

<CIIIIiiittttttttttttttttttttttttttttttttt> suara mobil taksi terdengar mengerem mendadak,

            ”Mas gapapa?”

            ”Gapapa bang, Udah jalan aja deh...” Aku mengeluarkan Handphone ku, aku mencoba untuk menelepon reza, tapi tiba-tiba sebuah tangan yang panjang dengan jari-jari yang mengerikan menahan aku untuk mendekatkan telepon genggam ke kepalaku.

            ”Apa yang ingin kau lakukuan pecundang??” tiba-tiba saja makhluk mengerikan itu berada didepan jok mobil taksi1

            ”HIYAHAHAHIYAHAHAHIYAHAHA.....!!! Kau Cuma sendiri Sampah!!!” Makhluk itu mengeluarkan suara yang sayup namun terus berulang di pikiran ku, Aku tidak dapat menghubungi reza, dia pasti sedang menunggu ku, seorang sahabat yang siap membantu sedang menunggu ku... Menunggu ku...

<BbrrrRRuUmmmm>

Mobil taksi melaju kecepatanya, sepertinya sopir itu sadar bahwa aku harus segera sampai di tempat tujuan. Yah.. sampai ditempat tujuan bersama penyakit psikosis yang sedang melanda pikiranku. Aku akn terus mengurung diri dikamarku, Aku merasa takut untuk keluar rumah, yah... selama beberapa hari kedepan, aku akan mati suri untuk sementara.

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
 
CAPTCHA
CAPTCHA diperlukan untuk mencegah spam, silakan diisi :)
Type the characters you see in this picture. (verify using audio)
Type the characters you see in the picture above; if you can't read them, submit the form and a new image will be generated. Not case sensitive.

Comments

  • ridho.jenaka's picture

    ok aku sabr koq nungguin

    ok aku sabr koq nungguin kelanjutannya hehehehe Wink

  • mikemieke's picture

    lanjutannn

    5

    lanjutannn nyaaaaaaa...wahh..
    tanggungggggggggg...
    ayoo boammmmm...lanjuttt...
    bener2 bisa liat ya semua yang dialami dan dirasakan oleh tokoh utama. dan merasa ada diposisi tokoh utama..
    bagusssssss...

  • boam's picture

    tunggu....

    @gianeka : wait for the next, when he become more insane and mad... creepy

    "As a talented person with huge aspirations, it’s easy to get over-confident. you’re showcased online, and you think you’re a prodigy No, you’re not. There are thousands of brilliantly talented young illustrators out there and you’re just one of them Be
  • Crow's picture

    ...

    it seem like a annoying incurable dissease...the only safe place is his own room? crazy..he will become insane in no time

    I am not person worthy of your concern
  • boam's picture

    :)

    belum berakhir di sini, masih ada yang mau di lanjutin...

    tapi udah cape... hehehe

    silahkan comment nya, saya sangat hargai itu

    "As a talented person with huge aspirations, it’s easy to get over-confident. you’re showcased online, and you think you’re a prodigy No, you’re not. There are thousands of brilliantly talented young illustrators out there and you’re just one of them Be

return to top