Aku dalam "Aku"
Matanya kejam, senyumannya bagai bulan sabit, raut wajahnya menakutkan melebihi seluruh makhluk yang paling seram, hidungnya mancung bagai paruh burung elang, terkadang ia menggerakan tubuhnya sambil terus berbaring seperti orang idiot yang terjangki penyakit ayan, mulutnya terkadang menganga lebar dan ia memancarkan pandanganya yang seperti orang mati karena tercekik oleh benang pancing ke arah mataku lalu ia tertawa cekikikan, mirip sekali dengan pecun jalanan yang sedang bermain-main bersama om-om genit bajingan, rambutnya panjang terurai, ia memakai gamis hitam, menutupi seluruh tubuhnya, tanganya yang panjang selalu terangkat ke atas, jari-jarinya mengerikan bagai kaki laba-laba yang jangkung, kukunya menyalak keluar. Itulah rupa makhluk yang selalu datang dan sering berada diatas tempat tidurku, terkadang aku takut untuk berada diatas tempat tidurku sendiri, karena dia… karena dia aku sering tidak dapat tidur, aku seperti orang yang terjangkit penyakit insomnia.
Sekarang ia sedang duduk diatas tempat tidurku. Kulitnya yang putih pucat membuat ia semakin menakutkan,
”apa yang kau takutkan harh?” <krrrghhh> tanya makhluk itu menggeram seperti binatang kepada ku
”loe berengsek!!!” jawabku ketus sambil menatap dalam-dalam matanya yang melotot dengan titik hitam di tengah-tengah bola matanya yang bulat sempurna, aku tidak tahan menatap wajahnya, dengan segera kupalingkan wajahku ke arah meja belajar yang berada didepanku.
”HiyaHiyahiYAahaYahahaAHA” makhluk itu tertawa lebar, dari mulutnya terjulur lidah panjang, diujung lidahnya terbelah, persis lidah kadal.
”lebih baik kau mati pemuda tolol, hidupmu hanya sampah! Hanya sampah! Tak ada yang memperhatikan kau! Bahkan teman-temanmu, orangtuamu atau sahabatmu yang semestinya bisa menjadi tempat dirimu bersandar dari lelahnya dunia pikiran! MATI MATI MATI pergilah kau ke neraka dengan sengsara, HIYAHIYAHIYAHAHA!!!”
makhluk itu berkata puas kepadaku, makhluk itu berkata demikian agar aku semakin pesimis dan ia ingin menjadikan aku sebagai orang yang tak berguna. Aku sebenarnya tidak tahan dengan makhluk itu, tapi tidak ada seorangpun yang dapat melihat sosok makhluk tengik itu. Makhluk itu adalah hasil imajinasiku, hasil halusinasi otaku yang semakin menggila setiap harinya... tak ada yang bisa melihatnya, hanya aku, aku yang menciptakanya dan kini ia tidak bisa hilang begitu saja dari otak ku.
”Anjing!” umpat ku kesal, lalu aku keluar kamarku, kubanting pintu kamarku, kini pikiran ku tertuju pada sebuah kotak kecil ceper berwarna hitam,benda itu dapat membuatku gembira, ya... itu adalah telepon genggamku dan aku menaruhnya dilantai bawah, tepat diatas meja ruang tamu, sekarang yang aku ingin lakukan hanyalah mengambil handphone ku, handphone ku adalah hiburan yang paling menyenangkan di saat aku sedang kesal dan tidak menentu seperti ini, aku dapat menelepon temanku lalu tertawa bersama, mengirim pesan lalu bersenang- senang menggunakan kata-kata singkat di dalamnya, memutar musik favoritku, aku dapat memotret diriku dengan pose-pose yang keren menurut hatiku dengan kameranya yang menempel dibagian belakang handphone ku, dan terkadang aku suka menonton video porno dari layarnya yang mungil, ketika gairahku sedang melonjak, aku memang masih remaja dan kebutuhan biologisku seakan tiada habisnya. Aku pun berjalan menuju tangga lalu menuju ruang tamu yang ada di lantai bawah, tapi kemudian sesuatu menghentikan langkahku. . . . .
”Bocah-bocah itu lagi” kataku dalam hati, di tangga itu aku melihat dua orang anak kecil sedang bermain-main, yang satu berambut panjang persis seperti kuntilanak cilik, anak itu melompat-lompat dari satu anak tangga ke anak tangga lainya yang berada di atasnya, sambil tersenyum menyeringai kearahku ia melompat dan melompat menuju tempat ku berdiri lalu kembali lagi melompat sambil menuruni anak tangga. Jantungku sempat terasa berdenyut kencang ketika anak kecil itu mengangkat pandanganya menuju wajah ku, ia memperlihatkan wajah yang amat menakutkan namun penuh dengan rasa kesedihan terlihat dari pancaran sinyal bahasa non verbal matanya yang hitam seutuhnya. Satu lagi anak kecil dengan mata yang sipit dan mempunyai belahan rambut emo, kulit wajahnya putih pucat, bibirnya membiru seperti orang yang dimakamkan dalam frezer lemari es raksasa secara hidup-hidup, bentuk mukanya seperti huruf U, dan sekarang ia merasa tertarik ingin melakukan hal yang sama seperti anak berambut panjang tadi. Tanganya mencoba melompat ke anak tangga yang ada di atasnya, kau tahu mengapa ia memakai tangan? Yah... karena ia tidak mempunyai kaki, tubuhnya hanya setengah, usus-usus yang ada diperutnya bergelantungan bagai kelelawar yang sedang tidur di langit langit goa dan hal yang lebih parah lagi, hanya diriku yang dapat melihat kedua bocah itu, hanya diriku yang dapat berinteraksi dengan mereka tetapi setidaknya mereka hanya sering mengagetkan ku, tidak menggangu seperti makhluk yang sekarang sedang berada dikamarku.
Terkadang ketika aku sedang kekamar mandi, anak yang berambut panjang sering bergelantungan di langit-langit kamar mandi, lalu ia melotot ke arahku, melihat wajahku yang seperti orang tersedak tulang ikan dia tertawa cekikikan lalu berlari keluar kamar mandi sambil melewati tubuhku. Rasanya aneh sekali ketika tubuhku ditembus oleh anak kecil berambut panjang itu atau anak kecil dengan mata yang sipit dan mempunyai belahan rambut emo, yang selalu membuatku terbangun ditengah malam dengan cara berjalanya. . . .ups, mungkin cara dia mengesot dari satu tempat ke tempat lain, selalu menimbulkan suara berdecit yang aneh dan sedikt menggangu, hmmm....aku mencoba fokus kembali, sekarang tujuanku hanya ingin mengambil telepon genggamku yang terkapar lemah diatas meja ruang tamu.
Ku turuni tangga sambil tetap tidak menghiraukan anak-anak kecil tersebut yang selalu tersenyum kecut sambil memandang diriku bagai seonggok daging bakar berjalan. Aku mendengar suara panggilan dari HP ku, segera aku berlari menuju ruang tamu, ku ambil handphone miliku yang sudah tidak berdering lagi, terpampang tulisan ’1 missed call, 1 new messages’ segera ku lihat siapa yang telah menghubungi aku dan...kaki ku melesat cepat menuju garasi, aku memakai sepatu kedsku lalu menuju sepeda motorku, menuju suatu hal yang hampir terlupa olehku.
Udara malam itu terasa cukup dingin, cuaca buruk sering terjadi akhir-akhir ini, tangan ku seperti membeku dan menjadi gumpalan es, menyesal aku tidak menggunakan sarung tangan pemberian kakak ku, meski terlihat jelek dan kurang nyaman dipakai aku merindukan sarung tangan itu, hebat!. Tetesan hujan gerimis mulai turun, membasahi kaca helm yang ku kenakan, menyejukan setiap tumbuhan yang mulai bergoyang tertiup angin, membasahi jalan-jalan dan tanah yang dari tadi di lindas dan di injak oleh kaki-kaki tak bersyukur dan roda-roda kendaraan tak berujung. Aku semakin melaju kecepatan motor ku ,
”Anjing, gue bakalan telat neh!” aku berkata pada diri sendiri, dan selama ini aku tidak menyadari kalau kata-kata itu mensugesti diriku untuk terlambat, <BBBBrrUUMM!> knalpot motorku menggema, memecah kesunyian yang membalutku dengan kesendirian. Menghempaskan daun-daun mati yang berguguran.
”Mati ! ” tiba-tiba aku mendengar suara yang sangat familiar dipikiranku, suara-suara itu muncul di otaku!
“HAHAHA! Dasar sampah! Kau hanyalah Anjing peliharaan manusia!! Tak lama lagi AKU Akan MEMBUNUHMU HAHAHAHA!!!” suara itu menggema di otakku, suara yang kerap kali terlontar dari makhluk yang sering ada di kamarku, dan kini ia menjelma menjadi suara-suara yang terus menggangu pikiranku.
“MASA BODO TAI!!!” aku berteriak di dalam helm motor ku. Pikiran ku hanya tertuju pada tempat yang akan aku datangi, keseriusan ku membuat suara itu hilang untuk sementara, yah..hilang untuk sementara saja. Di depanku terdapat belokan, aku menghempas motorku bagai pembalap Moto GP, lampu sorot motorku tiba-tiba menangkap sosok wanita telanjang dengan darah bercucuran diseluruh tubuhnya, pemandangan yang sudah biasa bagiku, yah mungkin aku berfikir ini juga merupakan hasil halusinasi otaku, kupalingkan pandangan ku dari sosok wanita mengerikan itu. Dari kejauhan aku melihat tempat yang sudah lama kunanti, sebuah kafe makanan khas negara bagian barat, dengan gemerlap lampu warna-warninya dan seakan menyayat gelap malam ini. Mobil-mobil berjejer membentuk barisan di depan halaman kafe itu yang terbilang cukup megah, motor-motor modifikasi super keren juga ikut meramaikan barisan itu, dengan segera aku melaju menuju barisan itu, kuparkirkan motorku yang standar perusahaan mesin di samping motor bermodifikasi dengan warna merah yang menyolok. Terlihat kontras sekali, tapi aku tak peduli.
Suara MC dikafe itu menggema sampai keluar, hingga tertangkap oleh aku yang sedang tergesa-gesa menuju pintu masuk kafe tersebut. Di depan pintu masuk kafe itu aku melihat seseorang yang tak asing lagi, yah....itu adalah gitaris sebuah band yang benama GUMBASTICK, sebuah band yang sedang mencoba meniti karirnya sebagai band cadas dengan skill personilnya yang tak bisa di pandang sebelah mata, dan ia sedang menunggu kedatangan ku, yah menungguku... karena tanpa diriku mereka tidak dapat disebut sebagai sebuah band, dalam sebuah band peran dirikulah yang memberi warna dalam setiap lagu yang dimainkan, tanpa seorang drumer atau dentuman dari alat perkusi, GUMBASTICK atau band lainya tidak akan menarik dan memuaskan telinga penonton. Performa seorang drumer paling enak untuk dilihat, bahkan gitarisku pun mengakui hal tersebut. Tetapi sekarang bukan waktunya sang gitaris dapat tersenyum gembira menyambut kedatanganku. Aku telat dengan sukses!.
”Woii kancut, Anjrit loe..! loe lupa yah klo malem ini kita manggung?” dia berkata dengan nada yang cukup tinggi sambil menarik tangan ku masuk kedalam kafe,
”sori ndra, otak gue akhir-akhir ini lagi kacau banget neh!” aku mencoba menjelaskan sedikit hal kepada Indra,
”udah lah, tiap hari otak gue juga kacau, emangnya loe doang!” balas indra dengan nada sedikit menyindir,
”Yaudah buruan deh 15 menit lagi kita naik neh, latihan selama 3 bulan buat maenin ni lagu ga boleh kita sia-siain, kali aja disekitar kita ada produser rekaman, trus dia tertarik buat ngontrak kita, Hahaha... serukan brur!!” Indra terlihat begitu bersemangat, sepertinya Aku juga berfikiran seperti itu. Tanpa pikir panjang lagi kami menyalip melawan kerumunan anak muda yang sedang memenuhi kafe itu, Johandi, bassis band kami sedang menuggu dibelakang panggung. Baju ku sedikit lepek, rasanya seperti ada lendir-lendir menjijikan yang menempel di kulitku, yaiks!.
Penuhnya kafe di tambah bisingnya ruangan itu dengan ocehan dua orang MC membuat suasana semakin hot, gila! Dengan penonton yang begitu banyaknya membuat diriku semakin bersemangat, ku pandangi panggung tempat dimana aku akan bermain, waah.. tidak terbayang lagi bila sorakan penonton yang menggila menyebut nama band kami, bangga rasanya.
”eh, zal!” sesorang sepertinya memanggil ku, namun Aku masih tertegun,
”wooi....!!”
”.......” aku masih tertegun membayangkan teriakan histeris penonton,
”MONYET !!”
<PlaaaaK...!> tangan besar melayang di wajah ku,
” Ngepet!!” aku berkata spontan penuh kedengkian,
”udah telat bengong lagi, buset dah ni bocah, kemane aje loe setan?” Johan sedikit memaki diriku, tak terasa aku sudah sampai dibelakang panggung, mungkin aku memang sangat lama menghayal.
”yeeh... santai aja, yang penting gue udah nyampe kan tai..!” aku sedikit kesal dengan sambutan johan yang nyolot.
”woii..woii.. udah siap kan? Semuanya standby, ntar terima aba-aba dari gue, abis itu kalian langsung naik ke panggung okeh!” seseorang dengan pakaian kemeja hitam berkata kepada kami, earphone yang cukup besar melingkari lehernya.
”Sip mas, kita-kita udah siap kok” kata indra kepada orang tersebut
”yaudah buruan pake dah niy jaket band kita” Johan melemparkan jaket berwarna hitam dengan sedikit motif darah yang cukup keren kepada Aku dan Indra. Aku mencoba untuk fokus pada permainanku, aku tak ingin bayang-bayang dan suara-suara dari makhluk hasil halusinasiku kembali lagi meneror di saat seperti ini. <drrt...drrrt.drrrrt..!> Sepertinya handphone ku bergetar. Kubuka handphone ku, ada satu pesan : Rizal loe kmna? prgi ko g pamitan, mama nyariin th, tak ada waktu lagi untuk membalas sms dari kakak perempuan ku, sebentar lagi aku akan menuju panggung.
”oke bro.. demi band kita, tarik nafas deh..” berkata indra kepada ku dan Johan, sambil menepuk kedua bahu kami,
”hhhfff..” Aku dan Johan menghela nafas, yup!, aku sudah siap sekarang. Kemudian terdengar suara MC yang sepertinya akan mempersilahkan kami untuk tampil ke panggung,
”yo...yo..YO.. party people” teriak salah seorang MC yang pria,
“ Let the GUMBASTICK entertain you! Hope you’ll enjoy the funtastic show”
“Hei..wait, do you know, they will give you the taste of paul gilbert performance the racerX performance, with song….. SCARIFIED!!!!”
<WwwHhooAAaaaa…!!> Terdengar suara teriakan penonton yang gaduh, aku dapat merasakan semangat dan histersinya penonton, mereka pasti kaget dengan penampilan kami
“Get Hang over with GUMBASTICK!!” suara salah satu MC menggema, seseorang yang tadi berbicara pada kami memberi tanda agar kami segera naik ke panggung, jantungku berdegup kencang saat berada diatas panggung,
“Tess..tess.. tess tisss tess tiss” indra mengecek mic,
<fuahaha> beberapa orang penonton tertawa mendengar check sound yang dilakukan Indra, sebagian lagi tidak menyadari apa yang telah dikatakan oleh Indra,
”oke deh, SELAMAT MALAM SEMUANYA, kita-kita disini bukanya sok jago mau ngebawain permainan dari racerX yang berjudul Scarified, tapi kita berharap mudah-mudan loe semua yang denger bisa ngerasa enjoy sama permainan kita, buat yang lagi punya masalah, ni musik cadas punya irama yang bisa bikin loe relaks, jadi.... pasang kuping loe semua bae-bae..!!”<dumb-dumb-dumb-dumb...!!!> Aku memulai permainan drum ku, Penonton sudah mulai terkejut dengan kecepatan kaki dan tanganku ku, disusul dengan permainan gitar Indra dan bass Johan.
Kami bermain seperti orang kesetanan, hasil latihan rutin selam tiga bulan tidak sia-sia, kami dapat membawakan lagu scarified dengan sangat baik, tangan kanan dan kiriku, kaki kanan dan kiri ku seakan mempunyai otak, aku menabuh drum dengan sangat energik, buih-buih peluh mulai bercucuran. Decak kagum penonton semakin terlihat,
”Permainan mu BURUK!!!, MATI saja kau dasar sampah!!!” suara itu... Aku mencoba untuk berkonsentrasi dengan permainan drum ku,
”Kau akan MATI kelelahan, kakimu akan digrogoti oleh lintah-lintah penghisap darah!! Tangan mu akan mati rasa, permainanmu akan hancur berantakan!!” suara itu terus mengisi otaku
”BANGSAT!!!!” Aku berteriak sejadinya. Aku berusaha konsentrasi, sama seperti saat aku mengendarai motorku tadi, cukup dengan konsentrasi maka suara itu akan hilang semantara, yah..
<WHHOaAAAaaa...GUMBASTICK!!!> teriakan penoton sedikit membuatku lega dan membantuku untuk tidak menghiraukan suara-suara khayalan itu, kulihat indra memainkan gitar dengan enerjik , Johan juga memgang perananya dengan sangat baik, Aku bermain drum dengan ritme yang sempurna, tidak semua orang bisa bermain seperti kami, kami bagai mutiara dalam cangkang kerang yang terpendam dalam lumpur. Banyak sekali talenta dalam diri kami, namun Aku merasa diriku,..... bayang-bayang makhluk tak lazim selalu menelimuti setiap lagkahku, dan sampai saat ini Aku belum menyadari bahwa semua hal tersebut akan membawa ku pada sebuah naskah hidup yang indah.
Kami mendekati bagian akhir lagu, tangan dan kakiku sepertinya sudah tak bisa dikendalikan, ritme yang tercipta ternyata masih berkesinambungan, tapi otak ku terasa dihinggapi oleh puluhan sengatan listrik, syaraf-syaraf pikiranku serasa berteriak, mataku menggelap, tiba-tiba saja sosok wajah pucat dengan rambut panjang terurai, mata yang melotot serta tiitk hitam di tengah matanya yang bulat dan suara tawa paling mengerikan tervisualisasikan dalam pandangan dan pikiran ku. Sosok tersebut mendekati wajahku semakin dekat bahkan antara hidungnya yang mirip paruh elang dengan hidungku hanya berjarak setengah senti. Aku memandang matanya yang terbalak, lalu aku merasa mulutnya yang menyeringai lebar semakin lebar dan lebar hingga ia siap untuk melumat seluruh kepalaku saat itu juga. Sepertinya aku sudah menyelesakan permainanku,
”whhoooo... gilaa!!! Keren bangett,, thats great.. it was,,....blughp..blughp..”
Ah.. sepertinya itu dalah kata-kata yang berhasil ku tanggkap saat MC datang ke atas panggung seusai lagu yang kami bawakan, memuji permainan hebat kami. Itulah permainan ku telah berakhir.. mungkin saja,.. tapi bukan yang terakhir.... ahh.. mataku berat sekali... aku ingin tidur.., selamat tidur...
”zal...zal, loe sadar?” terdengar suara Johan merayap masuk ke dalam telinga ku , ”whoooiii... Rizal udah sadar!!!”
”iyah..iyah... ” suara Indra terdengar sedikit sayup,
”nak... kamu ga papa? Nak?? ” itu suara mama, bukankah Aku sedang bermain drum?
”mah, ini hasil diagnosis dokter..” itu suara kakak perempuan ku, ada apa ini?
”bang...bang.. Ijal? Bang... jangan mati bang..” itu suara ade ku, ternyata ia berharap Aku mati, dasar kurang ajar! ”Aku sayang banget sama bang Ijal” hmm... Aku tarik kembali kata-kata ku, tapi ini sudah malam, kenapa ia belum tidur?
<HHHhh...uh..> Aku mencoba bangkit dari posisi tidur ku, tapi sejak kapan aku tertidur?
”ka..ka.. tidur aja dulu, kondisi kamu masih lemah..” itu suara papa, tapi bukan kah ia sedang mengajar les hari ini? <uuUH..> mata ku sangat berat, ku picingkan mata ku agar dapat melihat lebih jelas, terlihat ruangan yang sangat putih, lalu ruangan itu mulai bercucuran darah dari sela-sela langit-langit ruanganya, disekitarku berkeliling makhluk-makhluk mengerikan, salah satunya berkata seperti suara papa, yang lainya juga, ada yang bersuara seperti mama, namun wajahnya bagai nenek sihir kekurangan darah, lalu yang lainya.... Mereka semua telah lenyap, sekarang yang ada hanyalah makhluk-makhluk mengerikan yang haus darah dan sepertinya siap untuk membunuhku. Namun aku mendengar suara yang keluar dari mulut makhluk mengerikan itu, suara itu adalah suara orang-orang yang tadi ada disekitarku,
”AAAARRRgggHhhh.....!!!” mereka telah menelan orang-orang disekitarku!!!
”Gue dimana?? !!!” Aku berteriak histeris
”AAAAAhHH.... mama, Rizal ga mau ngeliat makhluk serem kayak gini!!” Aku menunjuk-nunjuk kearah makhluk yang bersuara seperti mama”,
”nak..nak ini mama... ini mama nak..”
”AAHHHH... jangan deket-deket, gue tau loe udah makan mama kan? Dasar Makhluk Bangsaat!!!” Aku berteriak menjadi-jadi, aku kalap, disekitarku sangat mengerikan, aku tidak tahan!
”AAAhhh...” Aku mencoba melawan dan menentang tanpa alasan yang jelas,
”Dokter...dokter...!” itu suara kakak, makhluk mengerikan yang telah menelan kakak ku menyebut-nyebut nama dokter, lalu aku melihat makhluk yang paling mengerikan diantara semuanya, makhluk dengan mata empat, sambil memegang sebilah besi runcing, lalu..... ia menancapkanya di lengan kananku..
”AAARRggHhh!” Aku kembali berteeriak histeris!
Kesadaranku mulai menipis... mata ku kembali gelap...ah...
Comments
-
yup...
Submitted by boam on 18 January, 2011 - 08:57.curhat sekaligus mengasah kretifitas dalam menulis, ahaha
di komikoo ada penulis ga yah?
pgn dpt komentar yang sadis-sadis tentang tulisan gw,
buat pecut... makin menyakitkan asal bisa diterima kenapa blg seperti itu, gw akan sangat senang... hahaha
thanksss, i'll wait for next reader

@kiky : makasi udah baca... gmn dgn gaya menulis gw? bagus kah? tmn banyak yng blg okeh, ngalur/.. tapi komen dari komikus blm neh, hehehe
@gianeka : have u read it?
"As a talented person with huge aspirations, it’s easy to get over-confident. you’re showcased online, and you think you’re a prodigy No, you’re not. There are thousands of brilliantly talented young illustrators out there and you’re just one of them Be -
pengalaman
Submitted by kiky2hikaru on 17 January, 2011 - 08:19.wew....cerita yang diambil sedikit dari pengalaman hidup memang layak mengena ke sasaran...
nice story
KIKY HIKARU AND YUMI HIKARI..... -
yyup....yuup...
Submitted by boam on 17 January, 2011 - 03:01.cerita ini adalah sebagian pengalaman hidup, semoga ada yang berkenan membacanya,
setelah cukup lama di simpan, akhirnya ini adalah pertama kalinya gw publish di media.
semoga menghibur dan dapat memberi inspirasi...
yah setidaknya... hehehe, banyak kata-kata tak pantas didalam, yah jagan di tiru... namanya juga anak muda bro... hehehe
"As a talented person with huge aspirations, it’s easy to get over-confident. you’re showcased online, and you think you’re a prodigy No, you’re not. There are thousands of brilliantly talented young illustrators out there and you’re just one of them Be









































Post new comment