Aka-me no katana
Aka-Me ni Katana
Dia membunuhnya, gadis berambut merah, itu yang selalu terbayang di benakku, dendamku, kesedihanku, semuanya yang membentuk keberedaanku saat ini, dan diantara pohon dan semak, di bawah sinar bulan yang memerah, dendamku mengarahkanku padanya. Tujuan hidupku.
Dibalik semak-semak aku gemetar melihat kiluan katananya yang memantulkan sinar bulan, pohon-pohon seolah menambah aura mencakam tempat persembunyianku, membuatku makin takut dan ragu,”Apa aku bisa membunuhnya?” pikirku dalam hati.
Melolong ketakutan, tangannya mendadak gemetar seiring dengan tangisan pilu. Hatiku seperti berhenti berdetak melihatnya, tangan kecilnya melepaskan katana, yang kemudian menutup wajahnya yang basah oleh air mata dan darah, aku yang berada di balik semak mencoba menyerangnya dari belakang. Dengan perlahan dia menoleh ke arahku,
"Kenapa...." katanya dengan tatapan mata sendu, menghentikan ayunan katanaku yang nyaris memotong lehernya. Entah kenapa aku terdiam tak mampu ucapkan apapun, masih teringat jelas dua tahun yang lalu dia berdiri memegang katana membunuh teman-temanku di depan mataku tanpa ampun, dua tahun aku hidup untuk kesempatan ini, dan keraguanku menahanku menebas kepalanya. "Kenapa?" katanya lagi,diiringi isak tangis yang membuatku muak. "Kenapa kau menanyakan hal itu?" bentakku. "Aku tidak pernah ingin melakukannya."
"JANGAN BERCANDA! apa kau pikir aku buta? kau membunuh orang-orang itu tanpa ampun, apa kau pikir aku akan percaya dengan bualaanmu itu?" Sejenak dia terdiam, tampak jelas di wajahnya penyesalan yang begitu dalam, matanya tetap sayu memandang tangannya yang menengadah ke arah wajahya.
“Aku tidak ingin melakukan ini lagi, seseorang tolong aku.. kumohon” Mendengar kata-kata itu, amarahku memuncak melihat orang orang yang sudah terbunuh disekelilingku, sekali lagi aku ku arahkan katanaku padanya yang tengah terduduk lemas sambil menangis. Dengan penuh kebencian kuayunkan katanaku ke arah lehernya. Sesaat kesedihan itu hilang, aku sadar akan keberadaanya, sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak aku ketahui.
“Manusia itu makhluk yang lemah bukan?“ Katanya sambil tersenyum. Aku terkejut, dia langsung mengambil katananya dan menyerangku, serangan itu begitu berat sampai aku nyaris tak mampu menahannya, aku masih beruntung masih dapat menahan katananya. Saat itu aku kembali terdiam melihatnya, warna matanya yang semula merah menjadi tampak keemasan, dia tersenyum sinis dengan hasrat ingin membunuh, gemetar di tangannya pun menghilang. Dengan genggaman yang sangat kuat memegang katananya dia terus menyerangku, serangan yang cepat dan tajam diarahkannya berkali-kali kepadaku, dan hampir berkali-kali aku terbunuh.
“Manusia itu makhluk yang lemah bukan…” katanya sekali lagi.
___________________________________________________________
“Untuk apa kau menanyakan hal itu!” kataku dipenuhi dengan kebencian.
“Saat sendiri mereka percaya pada orang lain, berpegang pada orang lain, namun sedikit saja orang lain itu melukai perasaan mereka, mengecewakan mereka, menakuti mereka, mereka membencinya , meninggalkannya, seolah orang itu tidak pernah ada bagi mereka, ikatan seperti itu.. kepercayaan seperti itu, apalagi kalau bukan lemah namanya?!” Sekali lagi aku tak mengerti dengan yang terjadi, aku tak menyangka dia akan mengatakan hal itu, siapa dia sebenarnya, apakah dia mencoba membuatku memahami masa lalunya, lalu memaafkan perbuatannya, semakin aku memikirkannya aku semakin membencinya. Dengan emosi yang semakin memuncak aku membentaknya,
“Pembunuh sepertimu, tau apa kau tentang perasaan manusia, ikatan manusia, kepercayaan manusia, jangan konyol, apa kau ingin menipuku ha? Hal itu tidak akan mempan terhadapku!” Dia terus menyerangku, semakin aku melihatnya aku semakin merasa aneh, tiap ayunan katananya, tiap gerakan kakinya, semuanya serangannya, aku seperti merasakan suatu keraguan, dibalik tatapan matanya yang haus darah dan senyumannya, dia menyimpan kesedihan jauh di dalam hatinya.
“Trang…” serangan yang kali inipun berhasil kutahan, mendadak dia terdiam tidak menyerang.
“kenapa kau berhenti!” tanyaku padanya. Lengannya lemas menggantung di pundaknya, katana yang dipegangnya pun terlepas.
“Kebencianmu, dimana… “ Katanya lirih sambil menatapku dengan sayu.
“Kebencian?”
“ya, kebencian yang kau miliki saat mencoba membunuhku tadi.” Aku tidak mengerti apa maksudnya, warna matanya yang keemasan kembali memudar , senyuman sinisnya pun sudah lenyap, aku mulai merasa aneh, seperti gadis ini seperti memilki dua kepribadian, tapi aku tetap berusaha meyakinkan hatiku bahwa di adalah pembunuh dan akan kumusnahkan dari muka bumi ini.
“Kau .. apa maksud semua ini?” tanyaku
“Maksud? Aku tidak mengerti, aku tidak punya maksud apapun kepadamu”
“Berhentilah bermain-main, kenapa melakukan ini padaku? Apa maksudmu!” Dia diam tak menjawab, tampak jelas kimono merahnya tercabik-cabik oleh tebasan katana, aku tetap menggenggam katanaku dengan erat. Dia terus menatapku dengan tatapan mata yang sayu.
“Tolong aku…. Aku tidak ingin membunuh siapapun. Aku … “ Bruk… gadis itu pingsan didepanku, aku masih bingung dengan apa yang ingin dikatakannya, namun tiba-tiba dari kejauhan terdengar orang berteriak-teriak,
“Disana ! Gadis itu ada disana!” teriak seseorang dari balik pepohonan, Entah kenapa tanganku bergerak membopong gadis itu, kugendong dia sambil melarikan diri, aku ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi.
Sudah hampir satu jam aku berlari, aku rasa sudah aman dari orang-orang yang ingin mengangkap gadis ini, aku pun mencari penginapan terdekat, dan disambut senyuman oleh seorang lelaki berambut putih lurus yang menjadi penjaga penginapan itu, dia menunjukkan jalan menuju kamarku.
“Apakah dia kekasih anda tuan?” tanyanya dengan sopan sambil tersenyum melihatku menggendong gadis itu menaiki tangga kayu yang berdecit ke lantai dua penginapan,
“Bukan.” Jawabku singkat. Kamar itu masih gelap dengan bau harum bunga melati, sepertinya pemilik penginapan mengganti bunganya tiap hari, walaupun malam baunya masih harum, kurebahkan gadis itu di tempat tidur dengan sprai putih yang rapi dan lembut, ku ambil handuk hangat dan mengusap bercak darah yang mengotori wajahnya, saat tertidur dia tampak sangat tenang, tidak ada kekhawatiran ataupun rasa takut, entah kenapa aku merasa tenang, aku rasa aku memang termakan kata-kata gadis itu tadi, “Apa yang terjadi..” begitu pikirku.

Click to read ~Aka-me no katana part 02
Click to read ~Aka-me no katane part 03
Click to read ~Aka-me no katana part 04
Click to read ~Aka-me no katane part 05
Comments
-
ah it's been a while since
Submitted by Crow on 17 November, 2011 - 17:12.ah it's been a while since someone does read this one, thank you very much
I am not person worthy of your concern -
this story must be very damn
Submitted by Crow on 29 January, 2011 - 14:30.this story must be very damn annoying for you guys to say that,,,,
i never thought i'd get so much hatred
I am not person worthy of your concern -
make
Submitted by kiky2hikaru on 18 January, 2011 - 17:08.make a story with english if you dare
KIKY HIKARU AND YUMI HIKARI..... -
you said
Submitted by kiky2hikaru on 18 January, 2011 - 17:06.why don't you just pick an english to your story????
you said so much with english,,,prove it..lol
KIKY HIKARU AND YUMI HIKARI..... -
@gianeka
Submitted by boam on 18 January, 2011 - 14:36.kenapa selalu menjawab dgn bahasa inggrissss?? heee...
padahal bikin cerita dgn bahasa indoneia nya bgus bgt...parah
count me in ur fans
"As a talented person with huge aspirations, it’s easy to get over-confident. you’re showcased online, and you think you’re a prodigy No, you’re not. There are thousands of brilliantly talented young illustrators out there and you’re just one of them Be -
thats just a style..dont
Submitted by Crow on 17 January, 2011 - 18:53.thats just a style..
dont bother with it.. wherever it comes from..it has specialty
I am not person worthy of your concern -
WEITS
Submitted by kiky2hikaru on 17 January, 2011 - 18:48.weits....sama2 pake latar belakang jepang
KIKY HIKARU AND YUMI HIKARI..... -
please enjoy
Submitted by Crow on 17 January, 2011 - 18:44.thanks for visiting this page
I am not person worthy of your concern











































Post new comment