Sun22May2011
ABSURD (4)
[b]DAY 4 - Satu Hari yang Tenang[/b]
Aneh melihat hari ini
Abby dan Keira berjalan bersama ke sekolah. Biasanya saat Keira
berangkat, Abby masih tergolek di tempat tidur. Saat itu 4 buah jam
wekernya akan bekerja keras membangunkan. Pada pukul 7 pagi itulah semua
kesibukan -dan kepanikan- Abby dimulai, dari hanya menyikat gigi dan
cuci muka tanpa mandi (dia selalu mandi malam sebelum tidur, toh setelah
itu tidak akan berkeringat, pikirnya), memakai seragam dan sepatu
berantakan, mengikat rambut panjang kemerahannya asal-asalan, berlari
menuruni tangga menuju meja makan mengambil sebuah roti (kau tahu ini
tidak akan cukup untuk perut Abby, apalagi setelah tahu makanan itu
harus dibagi dengan [i]makhluk lain[/i] dalam tubuhnya), dan berlari
lagi menuju sekolah yang gerbangnya sudah hampir tertutup. Hebatnya, dia
melakukan semua ini hanya dalam waktu 15 menit. Sisanya, pada
pertengahan jam pelajaran dia akan meringis kesakitan karena penyakit
mag nya kambuh.
Tapi pagi ini dia tidak bisa tidur dengan tenang.
Bagaimana tidak, sepanjang malam dia diganggu oleh Nite yang terus
menjilatinya meski sudah ditendang dan diusir sesering mungkin. Tak
heran gumpalan kantung mata hitam tampak jelas menggantung dibawah
matanya sekarang. Ada bagusnya juga dari kejadian ini, Abby bisa
merasakan bagaimana nikmatnya sarapan pagi -dengan porsi yang lebih
besar dari orang normal- tanpa perlu cemas mengejar waktu.
"Besok dia harus tinggal denganmu", untuk kesekian kalinya Abby menguap lebar, matanya berair.
"Dia peliharanmu, bukan peliharaanku", Keira membenarkan letak tas silangnya.
"Hei, dia juga kucingmu sekarang, ingat!" Abby mengatakan itu sambil mengacungkan cincin di tangannya.
"Lagupula, dia cukup praktis, kurasa. Dia bisa berubah menjadi bentuk kucing [i]normal[/i] pada umumnya. Kekuatan ZeaL, eh? Orangtua kita pun tidak akan curiga jika kucing normal tinggal di rumah kan?"
"Tidak-tidak!" Keira mempercepat langkahnya.
"Aku
percaya adanya keajaiban kalau kau berhasil bangun dan sarapan pagi.
Tapi kurasa ini bukan keajaiban, melainkan kucing itu terus menjilatimu
sepanjang malam, kan? Membayangkan dia mengotori wajahku dengan ludahnya
sudah membuat muak!"
"Dia juga tanggung jawabmu, bodoh!" Abby bergegas menyusul Keira.
"Kalau saja kau tidak pingsan saat itu, aku tidak akan sial seperti ini!" Keira semakin mempercepat langkahnya.
"Memangnya mauku pingsan seperti itu, hah?" Abby kesal, mengimbangi langkah Keira yang sekarang lebih mirip berlari kecil.
"Dan
apa kau punya ide, penjelasan macam apa yang cukup masuk akal tentang
jendela kamar yang pecah pada orangtuaku jika mereka pulang nanti?"
Keira berlari meninggalkan Abby.
"Memangnya aku peduli soal itu?" Abby berteriak, merasa tersaingi berlari menyusul Keira yang jauh di depan.
"Pikirkan
sisi positifnya! Kau bisa menyalurkan hasrat yurimu yang selalu
terpendam pada Lu tercinta dengan adanya Nite! Mengerti maksudku?"
"Aku tidak sekotor itu, Gale!" Keira semakin berlari kencang.
"Jangan munafik, manusia yuri!" tak mau kalah Abby terus berlari.
Dan entah sejak kapan, perjalanan menuju sekolah itu berubah menjadi sebuah perlombaan lari.
[b]*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*[/b]
Mereka
sampai di sekolah dengan bermandikan keringat. Sebenarnya tidak usah
terburu-buru seperti itu, toh ini masih pagi dan belum banyak siswa yang
datang. Setelah mencapai gerbang sekolah -dan menaiki beberapa anak
tangga-, dengan sendirinya Abby dan Keira saling membuang muka dan
berjalan berjauhan. Meski sekelas tujuan mereka tidaklah sama. Abby
melenggang santai -sambil mengatur napas- ke koridor kiri, dan aku yakin
itu langsung menuju ke kelasnya, 11-4. Tapi Keira berjalan ke arah
sebaliknya, ke ruang OSIS di ujung koridor kanan. Awalnya Keira yakin
disitu belum ada siapa-siapa, tapi melalui kaca pintu dia melihat
punggung seseorang yang, nampaknya, sedang mengerjakan sesuatu.
"Lu", Keira mengagetkan orang itu yang langsung berbalik dengan kaku.
"Sedang apa kau?" Keira menutup pintu perlahan.
"Ini kan hari Rabu, giliranku membersihkan ruang OSIS. Kau lupa?" Lu, [b]Luna Cole[/b] tepatnya, menghentikan sejenak kegiatan menyapunya dan menyapa Keira dengan senyuman, seperti biasa.
Tentu saja sebagai ketua OSIS Keira [i]biasanya[/i] tidak pernah lupa. Mengingat begitu banyak kejadian [i]absurd[/i] yang terjadi kemarin, masuk diakal kalau dia melupakan hal-hal rutin seperti ini.
"Kau
kenapa, Kei? Wajahmu sedikit pucat pagi ini, sakit?" Luna mengeluarkan
selembar tisue dan mengelap wajah Keira yang masih sedikit berkeringat.
"Ah,
tidak, hanya, aku buru-buru datang ke sekolah tadi, bersama Abby. Kau
tahu kan, setiap bersamanya pasti terjadi hal-hal yang tidak
diinginkan."
"Mesranya", Luna terkekeh kecil.
"Lu! Yang seperti ini bencana!" kau bisa lihat Keira sedikit merajuk ketika mengatakan ini.
Lagi-lagi
Luna hanya tersenyum sambil terus mengelap keringat Keira. Matanya
terfokus pada tisue di tangan, tidak memperhatikan Keira yang saat itu
menatapnya dengan sorot aneh yang biasanya muncul -di anime dan manga-
ketika seorang merasakan perasaan khusus pada lawan jenisnya. Yang jelas
tatapan itu tidak pernah muncul sama sekali ketika dia memandang Abby.
"Manusia
yuri!" seseorang berteriak dari luar dan pintu dibuka dengan kasar.
Keira yang salah tingkah langsung mengalihkan pandangannya pada objek
lain di ruangan itu, dan Luna yang terkejut tak sengaja menjatuhkan
tisue nya.
"Pembicaraan kita belum selesai! Cepat ikut aku dan lihat
siapa tamu istimewa yang datang", Abby langsung menarik kasar tangan
Keira, menyeret mungkin kata yang lebih tepat.
"Sopan sedikit Gale! Tidak lihat aku sedang ngobrol dengan orang lain?" Keira menarik tangannya dengan tidak kalah kasar.
"Tidak apa-apa Kei. Lagipula pekerjaanku sudah hampir selesai", dari belakang Luna menjawab.
"Lihat? Tuan puterimu saja bilang tidak apa-apa. Cepat!" Abby kembali menyeret Keira.
"Kami pergi, Lu!" Abby langsung menutup pintu.
Mereka berjalan melintasi ruang olah raga yang jaraknya cukup jauh, melintasi kandang binatang, dan berakhir di gudang tua.
"Tidak bisakah kau menghargai orang yang sedang berbicara, Gale?"
"Maksudmu,
orang yang sedang bermesraan? Masalah ini lebih penting! Lihat disana!"
Abby menunjuk ke dalam gudang, pada sosok berbulu abu-abu cerah belang
putih tebal yang sedang berdiri dengan ekor melingkar di kakinya.
"Apa? Kucing biasa kan?"
"Lihat baik-baik!"
Saat
itu si kucing perlahan membesar. Kaki depannya berdiri naik ditopang
kaki belakang, punggungnya lurus sampai ke atas. Tapal-tapal kucingnya
yang halus perlahan berubah menjadi jari-jari manusia, dan cakarnya
berubah menjadi kuku-kuku yang sama tajamnya (kuku inilah yang mencakar
Keira di awal cerita). Semua bulu di badannya tidaklah selebat yang
tadi, dan -entah muncul dari mana- tubuhnya ditutupi oleh baju berlengan
pendek hijau cerah serta celana pendek kuning yang terobek tidak rapi
di bagian ujungnya dan bolong pada bagian ekor. Saat perubahan itu
terjadi, lonceng kuning di lehernya tak henti bergemerincing
tergoyang-goyang.
"Onee-kun!" secepat kilat manusia kucing -yang
aku yakin Nite- itu meloncat ke arah Keira dan bersiap menjilat.
Sayangnya, dia berhasil ditendang Keira tepat di muka dengan sukses. Itu
tidak membuatnya menyerah dan berusaha menjilat Keira lagi.
"Semalaman aku tidak bertemu Onee-kun, rasanya rindu sekali!"
"Heh, kenapa membawa kucing ini kemari?!" Keira masih berusaha menjauhkan Nite.
"Aku masih cukup waras untuk tidak menyelundupkannya kemari! Dia datang sendiri, bodoh!"
"Ya lalu? Apa ada Sathoclea lain yang menyerang? Kalau iya, urus saja sendiri! Yang diincar kan kau, bukan aku!"
"Tidak, nyaa~no. Tidak ada apapun yang menandakan keberadaan Sathoclea lain."
"Lalu kenapa kemari? Merepotkan!"
"Aku ingin main dengan para Onee [i]ku[/i], nyaa~no."
"Mengertilah,
Nite. Ini sekolahan, kau tidak bisa ada disini meski dalam bentuk
kucing sekalipun. Pulanglah dan tunggu kami di rumah seperti kucing
peliharaan yang baik", Abby kelihatannya sedikit menghargai Nite
daripada Keira, malahan aku tidak pernah mendengar Keira memanggil
namanya seperti Abby.
"Bosaaaaaaaaaaaan...." Nite menggeliat malas.
KRIIIINNGGG
"Dengar?
Bel sudah berbunyi dan kami harus masuk kelas. Lakukan sesukamu, asal
jangan berkeliaran dengan...dengan wujud manusia!" Keira bersiap pergi.
"Dia benar, Nite. Pulanglah", Abby menyusul Keira dan meninggalkannya sendiri.
Saat kedua partnernya menjauh, muncul binar nakal dari mata Nite.
"Nyaa, tidak ada salahnya melihat-lihat tempat ini", dan Nite kembali berubah menjadi kucing biasa.
[b]*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*[/b]
Pelajaran
pertama hari itu adalah Sejarah yang membosankan, dengan guru yang
membosankan pula. Dia sudah cukup tua dan memakai kacamata tebal, lebih
tepat disebut menerangkan pelajaran untuk dirinya sendiri karena tidak
pernah berhenti berbicara atau memberikan kesempatan pada muridnya untuk
bertanya. Tapi aku yakin kalaupun dia melakukan itu, tidak ada yang [i]mau[/i]
bertanya atau berkomentar. Kebanyakan murid lebih memilih tidur (Abby
tidak menyia-nyiakan kesempatan ini) atau diam-diam membaca komik yang
diselipkan diantara buku pelajaran. Sang guru tidak pernah memperhatikan
karena dia terlalu sibuk pada perkataannya sendiri. Tapi kau tahu tidak
ada murid yang benar-benar membencinya.
Keira memanfaatkan [i]waktu luang[/i]
itu untuk memeriksa kembali pekerjaan OSIS nya yang belum rampung. Dia
mendesah pelan melihat teman sebangkunya telah tertidur pulas entah
sejak kapan. Tak habis pikir bintang apa yang menaunginya diatas sana,
yang jelas dia yakin bintang itu membawa kesialan. Berturut-turut dia
selalu [i]salah[/i] mengambil undian dan mendapat tepat yang sama dua
tahun ini, di sebelah Abby. Seolah belum cukup, sekarang dia harus
berurusan dengan hal-hal yang menurutnya bodoh dan [i]absurd[/i] seperti
Sathoclea, api kehidupan, ZeaL, dan sebagainya yang tidak ingin dia
ingat. Mungkin Keira tidak terlahir dengan bintang yang buruk juga,
kurasa, karena di sekolah ini dia menjadi seseorang yang cukup dikenal
bahkan mempunyai fans club sendiri (yang anggotanya terdiri dari
laki-laki dan perempuan). Dua tahun berturut-turut dia terpilih menjadi
ketua OSIS dan ketua klub Anggar.
"Mungkin sumber kesialanku
adalah kau", Keira melirik selewat pada Abby yang masih asyik tertidur
dan mulai membuat kumpulan liur di pinggir bibirnya. Dia mengalihkan
perhatiannya pada jendela yang langsung memberikan pemandangan pucat
lapangan sekolah. Dari atas sini dia bisa melihat cukup jelas
segerombolan anak yang sedang berlari kecil mengelilingi lapangan.
Matanya teralih pada seseorang yang sibuk mencatat absen, kurasa. Luna,
rambut pirang panjang yang biasanya dibiarkan tergerai itu diikatnya
kali ini. Si sekretaris OSIS mengenakan ikat kepala biru kuning
bertuliskan "My Moon" yang entah bagaimana bisa terlihat begitu cocok
dipakai olehnya. Kau akan cukup kaget kalau tahu ikat kepala itu
pemberian Keira. Dia belajar merajut mati-matian selama tiga bulan dan
setelah gagal berkali-kali akhirnya berhasil membuat sebuah ikat kepala
yang hasilnya tidaklah serapi buatan toko. Untunglah dia sempat
memberikannya tepat di hari ulang tahun Luna bulan lalu, dan Keira
berpikir bagaimana mungkin Luna mau memakai benda jelek buatannya.
"Yang
penting niat dan prosesnya, bukan hasilnya", ya aku setuju dengan
alasan Luna. Toh itu membuatnya tampak makin manis. Tapi karena itu ikat
kepala, Luna hanya bisa memakainya saat pelajaran olah raga saja. Tak
habis pikir, kenapa mesti ikat kepala? Selera Keira tentang hadiah ulang
tahun memang buruk.
Keira terheran, yakin lima menit lalu
anak-anak itu masih berlari dengan rapi dan sekarang mulai berkerumun
mengelilingi sesuatu. Keira memicingkan mata, dan langsung kesal begitu
tahu apa yang ada disana. Nite, dia membuat semua orang -termasuk Luna-
melupakan kegiatannya yang langsung sibuk mengelus dan memuji betapa
lucunya wajah Nite, betapa halusnya bulu Nite, betapa merdunya suara
meongan Nite. Sebenarnya Keira ingin langsung mendatangi Nite dan
menendangnya, tapi mengingat disana ada Luna -yang omong-omong sangat
menyukai kucing- ditambah jika nanti Nite mulai bertingkah dan membuat
semua orang yakin dia adalah kucing[i]nya[/i], Keira hanya terus
mengamati dari jendela. Dan kemana guru olahraga? Harusnya dia ada
disana untuk mengajar bukan? Sebenarnya guru itu tidak masuk hari ini,
sakit sepertinya. Pemandangan itu terus berlanjut sampai pelajaran
pertama selesai.
"Abby, cepat bangun! Abby! ABBY!" Keira bereriak kencang ditelinga Abby, membuatnya terlonjak kaget.
"Hei itu menyakitkan! Pelan-pelan saja, aku tidak tuli!"
"Ayo cepat!" Keira menggusur Abby yang masih mengantuk. Dia membawanya keruangan kelas 11-2, kelas Luna.
Disana
ada kerumunan kecil, bergegas mereka berdua masuk ke dalamnya. Ternyata
Nite -yang dipangku Luna- yang sedang dikerubuti. Tanpa basa-basi Keira
langsung menarik Luna, dan menyeret mereka berdua ke ruangan OSIS.
Sesampainya di ruang OSIS, Keira mengunci pintu.
"Ada apa? Kau membuat kucing lucu ini ketakutan", Luna mengelus Nite yang bertingkah manja.
"Pertama,
kucing itu tidak lucu sama sekali. Kedua, kucing liar ini milik Abby,
jadi Luna, sebaiknya cepat serahkan dia pada Abby agar tidak timbul
masalah. Ketiga.."
"Jadi ini kucingmu, Abby?" Luna memotong.
"Uh, oh? Well, iya", Abby yang masih sedikit mengantuk mulai mengerti situasi.
"Wah,
kebetulan sekali! Oh ya, pulang sekolah nanti aku boleh pinjam dia
tidak? Aku mau pergi ke toko buku membeli beberapa perlengkapan OSIS.
Boleh kan? Tentu saja sebagai pemiliknya kau juga boleh ikut, Abby.
Itupun kalau kau mau", Luna terus saja mengelus bulu halus Nite.
"Ow,
ow, tentu saja tuan puteri. Dengan senang hati aku akan melayani", Abby
mengatakan itu dengan nada menggoda, yang aku yakin godaan itu
ditujukan pada Keira.
"Aku juga ikut!" Keira [i]menyosor[/i].
"Tidak
boleh! Yang diajak hanya aku! Kau khawatir kami akan melakukan sesuatu?
Tenang saja, tuan puterimu tidak akan apa-apa. Maksudku, aku tidak
se-yuri kau."
"Bu-bukan! Aku juga perlu tahu kan jika ini berhubungan dengan kegiatan OSIS."
"Tidak usah sok-sok menjadi ketua OSIS yang baik. Kau memang munafik!"
"Sudahlah. Kita bertiga -berempat dengan Nite- pergi bersama. Bagaimana?" Luna menengahi.
[b]*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*[/b]
Sungguh, Abby menyesal ikut.
Keira
dan Luna sibuk mengobrol tentang kegiatan OSIS dan pembicaraan lain
yang tidak dia mengerti. Abby jadi merasa terkucilkan, meski tentu saja
Luna dan Keira tidak bermaksud demikian. Tapi jika dua orang sudah
terlibat perbincangan yang hanya dimengerti oleh mereka berdua dan kau
berada diantaranya, mau tidak mau kau akan merasa terkucilkan. Ditambah,
sekarang Keira menjadi seorang penjilat yang berpura-pura menyukai
kucing dan mengelus kikuk tubuh Nite yang digendong Luna. Pemandangan
yang membuat Abby sedikit muak.
Baru saat selesai berbelanja, keberadaan Abby mulai [i]disadari[/i] Keira dan Luna. Mereka berpisah di tengah-tengah jalan yang terbelah dua antara barat dan utara.
"Terima
kasih sudah menemaniku berbelanja, juga mengizinkan Nite ikut
bersamaku. Dia kucing yang benar-benar manis", Luna memberikan Nite pada
Abby.
"Tidak masalah. Kurasa dia juga boleh sering-sering menginap di rumahmu, Lu. Iya kan, Kei?"
"Yah, itu lebih baik, kurasa. Aku tidak keberatan."
"Kenapa? Kau tidak keberatan Kei? Kukira ini kucing Abby, kenapa kau [i]yang[/i] tidak keberatan?" Luna menatap heran.
"Um, yah, itu.."
"Dia kucing kami berdua, Lu. Kuharap kau tidak marah aku memelihara kucing berdua dengan pangeran[i]mu[/i].
Tapi ini bukan keinginan kami, mengerti. Ini hanya kecelakaan", Abby
menjawab menggantikan Keira yang tak bisa mengeluarkan alasan.
"Ah, kau benar-benar menyukai kucing sampai-sampai memeliharanya Kei? Aku senang mendengarnya."
"Haha, tentu saja, Lu. Tidak hanya kucing, semua binatang pun aku suka", Keira berkata dengan -entah bagaimana- nada sombong.
"Baiklah,
kita berpisah disini. Sampai jumpa besok", Luna berjalan ke arah barat,
meninggalkan Keira dan Abby yang berjalan ke arah utara.
"Akting yang bagus, Kei. Terutama bagian ketika kau bilang suka semua binatang. Sukses membuatku ingin muntah."
[b][ FIN ][/b]
Comments
-
jangan menendang kucing dunk
Submitted by alfisya2005 on 26 May, 2011 - 13:57.mungkin kalimat menendang kucing bisa diperhalus dengan menggeser atau menepis, yaaa








































Post new comment