Once Upon a Time in Tirtapura part 1

4.357145
3.290 kali
7 kali
cover
BAB 1 Pije, Nijina dan Lastri menyerbu sebuah apartemen di pinggir kota untuk mengambil sepaket besar "kue ulang tahun" dari sekelompok gangster. Tak disangka, rencana yang awalnya berlangsung mulus ini berubah menjadi kekacauan... OOT: Halo kawan2...setelah lama bertapa (berkutat dgn tugas akhir dkk) akhirnya saya kembali lagi! Laughing out loud
Catatan Editor: 

oleh Re alias M. Rendi D. dari Well+Done Studio

Tema ceritanya cukup bisa dicerna. Raid. Adegan tembak-tembakan menjadi nilai jual utama dengan karakter utama anak-anak muda.  Sekilas tercetus nuansa bahwa tembak-tembakan sudah menjadi makanan sehari-hari di Tirtapura. Mudah-mudahan tidak.

Kurang lebih itulah kesan utama kami dari komik berjudul “Once Upon a Time in Tirtapura” part 1 ini. Sekarang saatnya review dimulai.
Bagi kami, beberapa nilai positif yang kami lihat dari komik ini adalah:

  • + Panelnya dinamis dan memberi kesan fokus yang berbeda. Angle cukup variatif sehingga kesan monoton berkurang. Pemilihan adegan antara facial/character shot dan background juga seimbang. Secara logis, informasi yang diberikan sudah terpenuhi.
  • + mmm… bila diijinkan bertanya, kami ingin tahu maksud panel Nijina yang melirik tokoh utama itu maksudnya apa? [halaman 12] Kesan ekspresi dia nyiratin ada ‘rasa’ tertentu walau bisa kami tebak juga sebagai panel informasi normal. Jujur saja, arah pandangan mata Nijina membuat flow mengalir bagus tapi kesan melihatnya menjadi tanda tanya besar. Mungkinkah menjadi key plot suatu saat?

Sementara untuk beberapa hal yang mungkin bisa jadi pertimbangan:

  • - flow balon dialog ada baiknya diatur mengikuti arah pandangan mata. Mindset membaca ala Indo adalah kiri-kanan dulu baru atas ke bawah. Unless dalam paneling ditetapkan sebuah blocking yang mengarahkan mata pembaca pada segmen fokus lain. Flow balon dialog ini nyaris menyebabkan kami untuk membaca ala Manga (dari kanan-kiri). Tapi ini teknis kecil. Hanya dengan mengubah susunan sudah bisa didapatkan kembali kesan waktunya.
    Contohnya adalah saat Pije meminta Lastri Lari. flownya lebih baik balon dialog dulu baru Lastri terlihat lari. Dengan begini, flow pembaca akan jadi perintah dulu baru Lastri lari. Dalam adegan tersebut Lastri lari dulu baru suara terdengar. Bagi kami, agak merusak flow.
  • - Kurangnya ekspresi facial yang dimainkan. Semua berwajah datar... dan kesannya, semua karakter ini terlalu santai. Bagi kami bisa jadi mereka sudah terlalu terbiasa, sudah kebal, atau being hypnothized.  Tapi kesan identitas kelompoknya bisa kuat apabila memang semua having less facial expression. Tentunya, harus ada kelompok lain yang terlihat bisa berekspresi. Kondisi kontras akan membuat pengarang dipercaya memiliki kemampuan membuat ekspresi.
  • - Adegan action minus drama. Terlalu fast pacing dan bisa dilihat dari kurangnya parit panel serta perpindahan komposisi ruangan dan adegan ke adegan yang cepat. Dalam kategori tertentu, karena minus drama maka cengkraman tensi adegan terasa kurang. 
  • - Dari segi setting, kami merasa kejanggalan karena beberapa hal:
    Ketiadaan reaksi atas tembak menembak. Melihat lokasi setting yang dekat dengan keramaian, bukan tidak mungkin penduduk masuk ke sana. Belum lagi, tanpa silencer? Bunyi suara tembakan yang memantul di ruang tertutup bisa menimbulkan kegaduhan setara atau kurang sedikit dari bom. Tidak memancing kecurigaan? Kami agak ragu. Yang kedua, karakternya masuk ke gedung dengan senjata dibawa. Apa tidak menimbulkan kecurigaan? Ketiga, tidak ada gambaran besar seperti apa gedung yang akan diserang dari luar. Apakah hotel, motel, kantor, ruang kuliah? Ruang 208 bisa saja  menjadi salah satu nomor yang ada di sana.
  • - Ceritanya masih terlalu lempeng, tensi konflik belum terasa karena adegan tembak-tembakan berasa lancar. Hampir-hampir berasa nggak gigit. Apalagi kami belum menemukan antagonis yang menantang. Hanya ada para bodyguard amatir alias figuran alias cecunguk yang tewas di tangan anak-anak muda yang lebih ahli memakai pistol. Di akhir cerita baru muncul masalah dalam bentuk twist. Membaca ini membuat kami seperti melihat “Shoot’em Up” dengan premis quote yang tetap luar biasa “Sebenarnya dia yang kejagoan atau kita yang bego sih? .  
  • - Yang kami pertanyakan dalam setiap genre pasukan amatir adalah penggunaan senjata. Ya, rasanya hampir semua mengerti dan jago menggunakan senjata. Recoil shotgun tidak sembarang punya. Gadis muda seumur 20-30an (mungkin) tanpa latihan fisik yang kuat bisa terjengkang bila menembak show stopper ini. Well, Hollywood memang sudah menanamkan cakar kesannya terhadap senjata dan mesiu pada generasi muda: mudah digunakan, tanpa efek, dan solusi nomor satu. Tidak bisa disalahkan juga bila recoil tidak diperhitungkan karena, asumsi terbaik kami berkata “anak-anak muda ini bukan amatir tapi professional”. Tampaknya kami harus menunggu chapter 2 untuk membuktikan asumsi ini.

Terlepas dari hal diatas, kami menyukai beberapa adegan di bawah ini:

  •  "Siapapun yang ngomong MP3 di depan piringan hitam layak masuk penjara"< love this quote. Analogi dan kecintaan yang luar biasa inilah yang memberi kesan kuat dari karakternya. Apalagi saat ia menyesal tidak bisa mendapat piringan hitam dan disarankan untuk mendownloadnya. Kesan karakter ini kuat karena backgroundnya bisa dibaca. Belum lagi, dialah yang selalu melontarkan komentar analogi-analogi untuk menambah bumbu cerita. Sayang, jujur saja pengenalan karakternya tidak manis. Tidak grand entrance. Tapi dibalik itu, kesan keakraban antar karakter dimunculkan dengan baik. Tidak gugup. Kesan mereka sudah kenal lama terlihat jelas.
  • “Menjaga api tetap menyala”. Oke this one’s funny. Mengingatkan kami akan film “Babi Ngepet”. Pengarang ini sepertinya kenal atau  paham dengan musik dan film retro Indonesia. 
  • Karakter Nijina... moe! She look lovely. Okay, step aside that subjective comment, interaksinya yang dijadikan bahan ledekan cukup menyegarkan suasana. Satu-dua humor akan berguna untuk menurunkan tensi ketegangan dan komik ini punya beberapa.

Satu note dari kami lagi. Sifat-sifat karakter tidak terlihat berbeda satu sama lain. Apabila tidak didukung oleh dialog yang menggigit dikhawatirkan pembaca akan merasa dialog seolah dilakukan oleh satu orang saja. Dalam termin termudah, bila ekspresi kurang bisa menjadi pembeda maka  kami menyarankan untuk memberi cara berbicara yang mudah dikenali –mudah-mudahan saja kami tidak salah menilai atau terburu-buru memutuskan tidak beda.

komikPages: 
click to see larger version
Klik thumbnail untuk mulai membaca
  • click to see larger version
    page 0
  • click to see larger version
    page 1
  • click to see larger version
    page 2
  • click to see larger version
    page 3
  • click to see larger version
    page 4
  • click to see larger version
    page 5
  • click to see larger version
    page 6
  • click to see larger version
    page 7
  • click to see larger version
    page 8
  • click to see larger version
    page 9
  • click to see larger version
    page 10
  • click to see larger version
    page 11
  • click to see larger version
    page 12
  • click to see larger version
    page 13
  • click to see larger version
    page 14
  • click to see larger version
    page 15
  • click to see larger version
    page 16
  • click to see larger version
    page 17
  • click to see larger version
    page 18
  • click to see larger version
    page 19
  • click to see larger version
    page 20
  • click to see larger version
    page 21
  • click to see larger version
    page 22
  • click to see larger version
    page 23

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
 
CAPTCHA
CAPTCHA diperlukan untuk mencegah spam, silakan diisi :)
Type the characters you see in this picture. (verify using audio)
Type the characters you see in the picture above; if you can't read them, submit the form and a new image will be generated. Not case sensitive.

Comments


return to top