Profil komikus-komikus Indonesia
Halo halo, dalam rangka ikut meramaikan forum ini saya mau mulai posting artikel-artikel yang mengulas komikus-komikus Indonesia. silakan ikut nimbrung ya 
R.A Kosasih
sumber artikel: http://www.tamanismailmarzuki.com/tokoh/kosasih.html
\Nama :
RA Kosasih
Lahir :Bondongan, Bogor,Jawa Barat , 1919 Pendidikan :Inlands School 1932, Hollandsc Inlands School (HIS) Pasundan Karir :Penulis Komik,juru gambar di Departemen Pertanian Bogor,Komikus di harian Pedoman Bandung Karya :Sri Asih,Siti Gahara,Sri Dewi,Mahabrata,Ramayana,Pandawa Seda,Bharatayudha,Raden Parikesit,Srikandi

Ia pun menjadi penikmat komik itu, meski dengan cerita yang tentu, tak berurutan. Lulus dari Inlands School 1932, ia melanjutkan ke Hollandsc Inlands School (HIS) Pasundan. “Di HIS inilah saya mulai tertarik pada seni menggambar secara formal. Sebab, ilustrasi pada buku pelajaran Bahasa Belanda bagus-bagus. Buku catatan saya banyak yang cepat habis karena saya gambari,” kenangnya, tertawa. Selepas HIS ia tak meneruskan sekolah, meski kesempatan menjadi pamong praja menunggunya. Masa menganggur itu ia puaskan dengan menggambar dan menonton wayang golek.
Ia selalu pulang pagi, terutama jika lakonnya Arjuna, Bima, atau Gatotkaca. Karena kerapnya, ia sampai hapal semua cerita wayang, juga gaya para pedalang. “Jika pulang nonton, kepala saya masih selalu dipenuhi gambaran ceritanya. Saya lalu dapat ide, jika cerita itu dipersingkat tapi tetap berbobot, tentu disukai banyak orang.” Tapi, ide itu hanya sebatas ide. Tahun 1939, ia melamar sebagai juru gambar di Departemen Pertanian Bogor. Diterima, ia pun menjadi penggambar hewan dan tumbuhan. “Acap, serangga yang akan saya gambar harus saya lihat dulu di bawah mikroskop.” Gajinya cukup, meski tak mewah. Jepang masuk, kehidupan Kosasih menderita. Kebahagiaanya cuma satu, ia mendapatkan komik Flash Gordon.
Setelah merdeka, ia melihat banyak peluang di koran-koran. 1953, ia melamar kerja sebagai komikus di harian Pedoman Bandung, ia masuk malam, karena siang masih bekerja di Departemen pertanian. “Serial pertama saya lahir, Sri Asih, superhero wanita. Boleh dibilang, saya pengagum wanita. Ide itu terinspirasi oleh komik Wonder Women,” akunya. Sri Asih dicetak 3000 eksemplar, langsung tandas. Ia mendapat honor Rp 4.000,- sebulan. “Padahal, gaji saya sebagai pegawai Rp. 150,-.” Kesuksesan Sri Asih melecut semangatnya. Ia pun membuat serial kedua, Siti Gahara. Yang pertama pendekar wanita berbusana wayang, yang kedua berbusana Aladin. Juga laku keras.
Semangatnya kian membara. Imajinasinya tambah liar. Ia melahirkan kembali serial sejenis, Sri Dewi. Hebatnya, ia bahkan melahirkan edisi Sri Dewi Kontra Dewi Sputnik. “Saya mau menunjukkan, tradisi lawan modern tidak selalu dimenangkan yang modern. Sri Dewi harus tetap menang, ha-ha-ha...”
Tahun 1955, ia keluar dari Departemen Pertanian karena kesibukan yang tak bisa ditinggalkan. Order menggambar terus mengalir. Tapi, kenikmatan ijaminasi itu hanya berlangsung sepuluh tahun. Ketika Lekra berkuasa, komiknya dikecam karena mengandung unsur kebarat-baratan. Pihak Lekra malah membombardir pasar dengan komik keluaran RRC.
Tiras komik Kosasih turun drastis. Ia sedih, tapi tak menyerah. Merasa tertantang, Kosasih bergerak ke wayang. Komik Mundinglaya Dikusuma dan Ganesha Bangun pun lahir. Namun, komik Burisrawa Gandrung dan Burisrawa Merindukan Bulan yang laris. Pasar kembali ia kuasai. Ketika meminjam buku di Perpustakaan Bogor, matanya melahap Bhagawat Gita terjemahan Balai Pustaka. Ide baru pun muncul. Kepada penerbit Melodi, ia katakan ingin mengomikkan wayang dari versi asli. Segera Ramayana dan Mahabrata lahir. Hasilnya, luar biasa, mungkin rekor yang belum terpecahkan sampai saat ini.
Menurut hitungan Kosasih, dalam sebulan, satu seri komiknya dapat terjual 30 ribu eksemplar. Komikus lain pun terjun bebas mengikuti jejaknya. Tapi, trademark Kosasih tak tertandingi. Untuk tetap pegang pasar, ia terus berimprovisasi. Ia juga melahirkan superhero wanita lain, Cempaka, wanita berbaju loreng, kekar dan tinggi seksi. “Itu terinspirasi komik Tarzan,” akunya. Sayang, perubahan manajemen Melodi membuat komiknya tak lagi diperpanjang, hanya mengandalkan cetak ulang. 1964, ia pindah ke Jakarta, bekerja untuk Lokajaya. Tapi, masa keemasan komik mulai pudar. Serial Kala Hitam dan Setan Cebol hanya laku 2000 eksemplar. 1968, kesehatan Kosasih memburuk, ia pun istirahat setahun penuh, kembali ke Bogor.
Tahun 70-an, penerbit Maranatha Bandung memintanya menulis ulang Mahabrata. Tapi lucunya, karya ulang itu tak sama dengan yang pertama. Kosasih dinilai gagal. “Memang, jika menggambar saya mengikutkan suasana hati. Jadi, jika kadang menjadi berbeda sama sekali,” akunya. Memasuki tahun 1980-an, komiknya hanya beredar terbatas. Komik asing yang masuk, juga maraknya era komik silat Jan Mintaraga, Djairi dan Ganesh TH ikut memurukkannya. “Saya selalu membaca karya mereka, juga yang dari luar. Bagus-bagus sekali kok,” pujinya jujur.
Mulai 1985, Kosasih, pionir komikus wayang itu praktis dilupakan. Namanya hanya hadir dalam seminar dan sejatah komik. Orang bahkan jarang tahu, dengan tubuh renta uzur 88 tahun, ia masih acap duduk, sendiri, di meja gambarnya, berteman kalkir dan tinta cina, dan menggambar dengan jari yang gemetar. Kosasih masih beraksi, sendiri, di paviliun mungil Jl Pahlawan Bogor, seakan diminta menjadi saksi, zaman yang mengogahi seni tradisi.
(Kompas & Berbagai Sumber)
Comments
-
4 February, 2010 - 09:16#2Baru kenal ni senior
Wah.... jujur... Q baru kenal ni Bapak.... Thank mas Iqbal yg ngenalin ke kami.
-
2 November, 2010 - 09:01#3Kenal ga Kenalweleh2, saya uda tw komiknya dr dolo, tp baru tw sekarang sang komikusnya, dasyat gan infonya
-
3 November, 2010 - 10:00#4sama-sama :) semoga berguna
sama-sama
semoga berguna -
15 December, 2010 - 14:23#5Ganes TH
Ganes TH.
Dari Wikipedia bahasa Indonesia
Lahir: 10 Juli 1935, Tangerang, Jawa Barat
Meninggal: 1995
Pekerjaan: Komikus
Kebangsaan: Indonesia
Aliran Sastra: Komik, Cerita SilatGanes Thiar Santoso (lahir di Tangerang, Jawa Barat, 10 Juli 1935 – meninggal 0 Desember 1995 pada umur 59 tahun), atau lebih dikenal dengan nama pena singkatnya Ganes TH. adalah seorang komikus Indonesia terkenal. Ia merupakan salah satu tonggak kejayaan komik Indonesia. Pada masanya Ganes TH. merupakan salah satu dari “tiga dewa komik Indonesia” bersama dengan Jan Mintaraga dan Teguh Santosa. Kisah dalam komik-komiknya begitu memikat hati pembaca komik Indonesia di era tahun 1970 sampai 1980-an.
Ganes TH. menciptakan tokoh “Si Buta Dari Goa Hantu” yang menjadi merk dagang-nya dan merupakan tokoh komik lokal yang paling populer sepanjang masa. Komik Si Buta Dari Goa Hantu adalah komik silat Indonesia yang pertama. Terbitan perdananya langsung "meledak" sehingga komik Indonesia saat itu menjadi dilanda "demam silat" sehingga banyak komikus lain yang mengekor di belakang kesuksesan Si Buta. Dikabarkan bahwa komik seri perdana Si Buta ini dicetak hingga ratusan ribu eksemplar.
Serial Si Buta dari Goa Hantu karya ciptaannya tidak akan
pernah dilupakan banyak pembaca dari berbagai pulau di Indonesia. Hal
ini disebabkan karena petualangan Si Buta dimulai dari Jawa Barat hingga menyeberang ke banyak pulau seperti Bali, Flores, Kalimantan, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah, yang menunjukkan pengetahuan Ganes yang luas dan kecintaan pada tanah airnya yang begitu dalam.Ganes TH dengan "Si Buta Dari Goa Hantu" bersama dengan komikus legendaris lainnya seperti Jan Mintaraga dan Teguh Santosa merupakan salah satu ikon puncak sejak Kho Wan Gie, R.A. Kosasih, Zam Nuldyn, dan Taguan Hardjo. Sejarah panjang komik Indonesia mencatat nama Ganes TH sebagai salah satu legenda komikus Indonesia.
Karya Ganes TH.- Si Buta dari Goa Hantu - diadaptasi menjadi berbagai film layar lebar dan serial televisi berjudul sama
- “Misteri di Borobudur“
- “Kabut Tinombala”

- “Iblis Pulau Rakata”
- “Banjir Darah di Pantai Sanur”
- “Bangkitnya Si Mata Malaikat” (1987) - diadaptasi menjadi film layar lebar berjudul sama tahun 1988
- “Pamungkas Asmara”
- “Mawar Berbisa”
- “Misteri Air Mata Duyung”
- “Neraka Perut Bumi”
- “Manusia Kelelawar dari Karang Hantu”
- “Badai Teluk Bone”
- “Tragedi Larantuka”
- “Sorga yang Hilang”
- “Manusia Serigala dari Gunung Tambora”
- “Prahara di Donggala”
- “Prahara di Bukit Tandus”
- “Perjalanan ke Neraka”
- Djampang Jago Betawi
- Pendekar Selebor
- Pengantin Kelana
- Api di Langit Kulon
- Zomba
- Reo Anak Serigala
- Taufan
- Cobra
- Petualang
- Tjisadane (1968-1969) - diadaptasi menjadi film layar lebar berjudul sama tahun 1971
- Krakatau (1970)
- Tuan Tanah Kedawung (1970) menjadi film layar lebar tahun 1972
- Nilam dan Kesumah (1970)
- Kunjungan di Tengah Malam
- Si Buta dari Goa Hantu - diadaptasi menjadi berbagai film layar lebar dan serial televisi berjudul sama
-
15 December, 2010 - 19:19#6Waaaaaaaaaaaah...
aq mlah cm tau filmnya...
jd pngen ngrasain komik Indonesia bangkit lg,msa komik2 yang aq lht d toko buku cuma ngisi 1 rak ja...
padahal rak utk bukunya bnyak bgt, tp kbnyakan komik dr japan...
-
18 December, 2010 - 21:01#7Apakah aku belum lahir?kayaknya aku belum lahir deh di jaman mereka.
bagiku itu gak familiar. :/ -
20 December, 2010 - 11:52#8beru tauwah baru tau aku tentang bapak ini.
-
23 December, 2010 - 20:23#9Tambahin - Kho Wan Gie
Pembuat comic strip pertama di Indonesia

Kho Wan Gie (lahir 1908 - wafat Mei 1983) adalah seorang komikus generasi pertama Indonesia yang karyanya mulai diterbitkan pada tahun 1929. Nama "Put" untuk pertama kali terbit Januari 1931. Karya awalnya, strip komik berjudul "Si Put On" adalah salah satu komik pertama di Indonesia dan menjadi pelopor komik-komik humor di Indonesia. "Put On" bercerita tentang seorang pria bujangan gendut dari kelas menengah yang lugu dan konyol yang tinggal bersama ibunya ("Nek") dan dua adiknya, "Tong" dan "Peng". Kadang-kadang muncul pula teman baiknya, "A Liuk", "A Kong" (wakil dari kaum totok), "O Tek" (wakil dari Tionghoa Belanda). Meskipun kisah-kisah "Si Put On" menggambarkan suasana masyarakat peranakan Tionghoa di Jakarta, nama "Put On" sendiri diambil dari kata "Bun An" atas saran direktur Sin Po saat itu, Aung Jan Goan yang berarti "Hiperaktif"
Komik ini terbit pertama kali pada tahun Agustus 1931 di harian Sin Po dan terus terbit selama 30 tahun meskipun sempat terhenti pada masa pendudukan Jepang dari 1942 hingga 1946. "Si Put On" terakhir terbit dalam media majalah Pantjawarna dan Harian Warta Bhakti. Kedua penerbitan ini dikenal beraliran kiri. Sejak peristiwa G30S, kedua media itu berhenti terbit, dan "Si Put On" pun tenggelam bersamanya.

Setelah lama absen, Kho Wan Gie muncul lagi dengan menggunakan nama samaran "Sopoiku", yang artinya tidak lain "Siapa Itu". Dengan nama ini ia kembali menegaskan keberadaannya dalam dunia komik Indonesia.

Karyanya Sopoiku antara lain diberi judul dan seri "Nona A Go-Go", "Lemot dan Obud", "Agen Rahasia 013 (Bolong jilu)", "Dalip dan Dolop", "Djali Tokcer".
Kho Wan Gie pun tampil di Majalah Ria Film (dengan tokoh si Pengky), Varia Nada, dan Ria Remaja.
-
23 December, 2010 - 23:49#10Waaah... Put On! dulu pas
Waaah... Put On! dulu pas kecil pernah baca komiknya punya entah siapa
thanks sumbangannya bro Dragon! 
-
24 December, 2010 - 15:58#11ada ga ya link buat baca
ada ga ya link buat baca komik2 jadul kaya diatas?
-
3 January, 2011 - 20:00#12Teman-teman, sumbanganTeman-teman, sumbangan artikel2 ini berharga lho buat dunia komik Indonesia. Coba didokumentasi yang bagus dan dijadikan halaman khusus, semacam wikipedia-nya Komikoo.
-
6 January, 2011 - 06:16#13Ya aq setuju...
Hu..um..biar kita tahu nenek moyang qta jg seorang komikus...
sekalian di upload komik2 mereka biar bisa dibaca di komikoo...














































Artikel dikutip dari: http://rumahputih.net/?tag=hans-jaladara (terbuka di jendela baru)
Karya-karya beliau bisa juga dilihat di halaman deviantartnya: http://jaladara.deviantart.com/ (terbuka di jendela baru)
Nama: Hans Jaladara
Lahir: Yogyakarta, 1947 - Indonesia
Mulai membuat komik di tahun 1966, judul komik pertama: Hanya Kemarin
Karya-karya:
Hans adalah salah satu dari 7 “pendekar” komik Indonesia di masanya, selain Jan Mintaraga, Ganes Th, Sim, Zaldy, Djair, dan Teguh Santosa. Dari 7 pendekar itu, hanya Hans dan Djair yang masih bertahan. Selebihnya, telah tunduk di depan maut.
Panji Tengkorak yang terdiri dari 5 jilid, boleh dikatakan karya masterpiece Hans. Meski karya lain, Walet Merah, Si Rase Terbang juga meraih popularitas. Setelah Si Buta dari Goa Hantu karya Ganes Th, hanya karya Hans itulah yang mampu menyamainya, difilmkan, bahkan sampai mengundang aktris Taiwan Shan Kuang Ling Fung sebagai Dewi Bunga.
“Setelah Si Buta… populer, sebuah penerbit meminta saya membuat cerita serupa Jan. Tapi saya tak mampu meniru. Saya buat Panji, meski tetap saja banyak yang melihat mirip karya Jan,” cerita Hans, sebagaimana dikutip Kompas.
Ia pun membuat tokok yang anti-si Buta, Badra Mandrawata. Jika si Buta berambut panjang, Panji pendek. Si Buta rapi berbaju kulit ular, Panji compang camping. Si Buta membawa wanara, Panji menyeret keranda. Semua berbeda.
Banyak yang menilai, Panji adalah campuran koboi Italia dan silat Cina masa itu. Bahkan, adegan menyeret keranda, adalah peniruan dari film A Coffin for Jango yang dibintangi Franco Nero.
Ayah Hans adalah guru bahasa Inggris, yang memperkenalkan Shakespeare. Ia bahkan hapal pidato Mark Anthony dalam Julius Caesar itu. Ia pun mewarisi bakat melukis.
“Sampai ditimpuk Bu Guru, karena di sekolah menggambar terus,” kenangnya.
Kebiasaan membaca meliarkan imajinasinya. Melihat pengemis, kadang ia berpikir itu orang sakti yang sedang menyamar. Untuk adegan silat komiknya, ia mempertanggungjawabkannya. Maklum, ia belajar kungfu di Cheng BU Mangga Besar, dan belajar Judo pada Tjoa Kek Tiong.
Hans mulai berkomik sejak 1966, Hanya Kemarin yang diilhami film Hollywood Only Yesterday. Honornya kecil. Namun, saat Panji jaya, satu naskahnya sama dengan satu ons emas.